Aksi Kamisan ke-908 Warnai Peringatan Reformasi dengan Solidaritas Andrie Yunus

Aksi Kamisan ke-908 Warnai Peringatan Reformasi dengan Solidaritas Andrie Yunus

Peringatan 28 tahun Reformasi dalam Aksi Kamisan ke-908 yang berlangsung di seberang Istana Negara, Jakarta Pusat, diwarnai oleh gerakan solidaritas untuk aktivis KontraS, Andrie Yunus. Seperti dilansir dari Megapolitan, aksi tersebut digelar pada Kamis (21/5/2026) sore.

Ratusan peserta aksi terlihat antusias menuliskan surat dukungan secara langsung untuk Andrie. Saat ini, Andrie masih menjalani perawatan medis akibat menjadi korban penyiraman air keras oleh personel TNI.

Satya dari Amnesty International Indonesia selaku penggagas gerakan menjelaskan bahwa penggalangan surat fisik secara luring ini baru pertama kali dilakukan. Momentum peringatan Reformasi sengaja dimanfaatkan untuk pergerakan tersebut.

Ratusan lembar kertas yang disediakan oleh panitia langsung diserbu oleh massa aksi. Mereka ingin memberikan dukungan moral secara langsung kepada Andrie.

"Kami mau menggalang surat solidaritas untuk Andrie Yunus yang saat ini masih dirawat karena disiram air keras oleh anggota TNI. Kita tahu kerusakan dan rasa sakit yang dialami itu begitu parah. Jadi kita mau mengajak publik untuk ngasih semangat untuk Andrie biar lebih cepat pemulihannya, biar dia semangat lagi untuk bangkit," kata Satya kepada Kompas.com di lokasi, Kamis.

Satya menambahkan bahwa dirinya bersama kelompok masyarakat sipil merasa berutang budi atas dedikasi Andrie. Selama ini, Andrie dikenal sebagai aktivis yang vokal menyuarakan tuntutan masyarakat dan mendampingi rakyat tertindas.

"Jadi kurasa ini saatnya bagi kita sebagai rakyat gantian untuk bersolidaritas kepada Andrie, mendukung dia," ungkapnya.

Seluruh surat fisik yang terkumpul nantinya akan diserahkan kepada Andrie melalui perwakilan KontraS. Sebelumnya, dukungan serupa yang mengalir secara daring terbukti memberikan dampak psikologis positif bagi Andrie.

"Kita udah pernah kasih ke dia dan ini sangat membuat dia senang karena dia kan sangat terisolasi ya menjalani perawatannya sendiri, dan dia tahu ternyata yang ngedukung dia banyak, jadi itu bikin dia semangat," jelas Satya.

Antusiasme penggalangan surat ini terlihat dari area penulisan pesan yang dipenuhi oleh massa aksi. Salah satu pesan datang dari Ale (21), seorang mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ).

Ale menuliskan pesan cukup panjang yang berisi ucapan terima kasih serta doa. Ia berharap Andrie bisa melewati proses penyembuhan dengan baik.

"Yang pasti (pesannya) terima kasih, karena udah berjuang sampai sejauh ini walaupun harga yang harus Bang Andrie bayar itu mahal sekali. Dan yang pasti adalah semangat, semoga Tuhan meringankan dan memudahkan segala jalan pemulihan dan pembangkitannya," tutur Ale.

Ale mengaku senang bisa menuliskan pesan meskipun belum pernah bertatap muka langsung dengan Andrie. Ia mengenal Andrie sebagai sosok pejuang yang tidak pernah gentar menyuarakan kebenaran.

"Kalau bertemu langsung sih belum pernah, cuma rasa semangat atau apa pun yang berusaha disampaikan oleh Bang Andrie kayaknya bisa saya billing nyampe gitu ke kita semua," ucapnya.

Pesan senada turut disampaikan oleh Elki (21), peserta aksi lainnya. Kasus yang menimpa Andrie membuat Elki merasa bahwa perjuangan membela negara sering kali harus dibayar mahal oleh pejuang HAM.

"Aku merasa ironis aja untuk orang yang berjuang segitu hebatnya untuk negara yang kita tinggalin, yang kita cintai itu, ya harga yang dibayarnya harus dengan cara seperti itu. Aku secara garis besar minta maaf juga karena merasa seharusnya bisa berkontribusi lebih banyak, dan dia itu menginspirasi aku secara enggak langsung," kata Elki.

Selain mendoakan kesembuhan Andrie, para peserta aksi dan aktivis satu suara mengecam proses peradilan terhadap pelaku. Sidang saat ini digelar di pengadilan militer.

Proses hukum tersebut dinilai tidak transparan, janggal, serta cenderung melindungi oknum aparat yang menjadi pelaku penyiraman. Satya menegaskan kasus ini murni tindak pidana umum di ruang sipil terhadap warga sipil.

"Tentu kita mengecam dan mendorong sidangnya itu dilakukan melalui peradilan umum. Sudah sangat jelas bentuk pelanggaran yang dilakukan itu tindak pidana umum. Tidak ada kerugian fasilitas militer sama sekali, jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk ngebawa itu ke kasus peradilan militer," kata Satya.

Satya menilai proses hukum di pengadilan militer membuka celah penegakan hukum yang hanya sebatas sandiwara atau direkayasa. Kekecewaan serupa dilontarkan oleh Ale yang melihat jalannya persidangan terasa janggal.

"Kayaknya satu kata sih ya, jujur janggal gitu. Karena banyak yang enggak masuk akal di proses persidangannya, banyak yang rasanya enggak sesuai gitu dari yang seharusnya gitu dan seharusnya disidang di pengadilan sipil, bukan militer," kata Ale.

Sementara itu, Elki setuju dan menyebut jalannya pengadilan saat ini sangat jauh dari kata transparan kepada publik.

"Kecewa aja sih sebenarnya, tapi ya udah enggak kaget lagi karena udah sering banget dikecewain sama hukum," ucapnya.

Elki berharap kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus tidak memadamkan api semangat para aktivis. Ia ingin semangat tersebut justru semakin menyala.

"Apalagi anak-anak muda yang sekarang aku lihat tuh udah mulai aware, dan aku harap orang-orang di sana termasuk aku itu bisa lebih membakar api semangatnya lagi untuk terus berjuang bareng Bang Andrie," tutur Elki.

Di sisi lain, Amnesty International mendesak agar keadilan ditegakkan secara imparsial. Penegakan hukum dituntut tidak hanya menyasar eksekutor lapangan, tetapi hingga ke dalang utama.

Berdasarkan temuan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), diduga ada sekitar 16 orang yang terlibat sebagai pelaku lapangan, bukan hanya empat orang.

"Pelakunya diadili seadil-adilnya secara independen, transparan, imparsial. Nggak hanya pelaku di lapangan tapi juga rantai komandonya seluruhnya sampai aktor intelektualnya," tutur Satya.

Artikel terkait

Rekomendasi