Aktivis kemanusiaan internasional dari armada Global Sumud Flotilla mengungkap kesaksian mengenai penyiksaan fisik dan kekerasan seksual berat oleh pasukan Israel. Insiden terjadi setelah kapal bantuan menuju Gaza tersebut dicegat di perairan internasional, yang memicu kecaman dari berbagai negara termasuk Indonesia.
Lembaga hak asasi manusia Adalah yang berbasis di Israel bertindak sebagai perwakilan hukum para aktivis dan mengumpulkan bukti-bukti serangan aparat. Pihak Adalah melaporkan penggunaan alat kejut listrik, peluru karet, hingga penganiayaan berat oleh aparat keamanan.
Koordinator Advokasi Internasional Adalah, Miriam Azem, menegaskan kepada CNN bahwa tingkat kebrutalan aparat dalam operasi kali ini merupakan yang paling parah dalam sejarah pendampingan hukum mereka.
"In the past 10 years of Adalah representing activists on flotillas, this is by far the most severe violence and assaults that we’ve encountered," kata Miriam Azem, Koordinator Advokasi Internasional Adalah.
Beberapa penyintas memilih merahasiakan detail serangan, sementara sebagian aktivis lain masih mendekam di penjara Israel dan mengkhawatirkan intimidasi lanjutan. Sutradara film sekaligus aktivis asal Australia, Juliet Lamont, membeberkan pengalamannya menjadi korban pemukulan dan kekerasan seksual oleh lima pria di atas kapal tahanan Israel.
"You know they’ve broken our bones, but they haven’t broken our soul," ujar Juliet Lamont, Aktivis dan Sutradara Film Australia.
Tuduhan kekerasan yang terstruktur ini langsung mendapatkan bantahan keras dari pihak Layanan Penjara Israel (IPS) yang menyampaikannya melalui media CNN.
"allegations raised are false and entirely without factual basis," sebut Layanan Penjara Israel (IPS).
IPS mengklaim bahwa seluruh prosedur penahanan terhadap para sukarelawan kemanusiaan tersebut sudah dilakukan sesuai dengan regulasi hukum yang berlaku.
"All prisoners and detainees are held in accordance with the law, with full regard for their basic rights and under the supervision of professional and trained prison staff," tutur Layanan Penjara Israel (IPS).
Pihak otoritas penjara tersebut menyatakan membuka diri untuk melakukan investigasi jika ada laporan pelanggaran resmi yang masuk.
"Any specific complaint or allegation raised through the appropriate legal and official channels is examined by the competent authorities in accordance with applicable procedures," jelas Layanan Penjara Israel (IPS).
Sanggahan IPS tersebut berbanding terbalik dengan kesaksian para korban cedera yang dievakuasi ke Turki dan negara Eropa. Aktivis Australia, Zack Schofield, menceritakan kebrutalan fisik yang konstan selama proses interogasi imigrasi saat dirinya dirawat di rumah sakit Istanbul.
"I myself was zip-tied in a torture position with my hands behind my back, for 40 minutes until I almost vomited from the pain. Then I had my head slammed into the table during the immigration process, constant knees to the chest, face, any kind of way they could there were pliers in my ears pulling them back," papar Zack Schofield, Aktivis asal Australia.
Kekerasan serupa dialami Meriem Hadjal, aktivis perempuan asal Prancis, yang mengaku dilecehkan secara seksual dan dijambak setibanya di Paris.
"I was subjected to sexual violence and groping," ungkap Meriem Hadjal, Aktivis Prancis.
Kondisi tempat penahanan juga digambarkan seperti ruang horor oleh jurnalis Italia Alessandro Mantovani. Aktivis Inggris Richard Johan Anderson menilai kekejaman ini merefleksikan penindasan harian warga Palestina.
"We've been beaten, tortured, systematically dehumanised, and... we have just had a little taste of what the Palestinians go through every day," ucap Richard Johan Anderson, Aktivis Inggris.
Ketegangan internasional semakin memanas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengunggah video yang mengejek para aktivis saat berlutut dalam kondisi terikat. Aksi Ben-Gvir tersebut memicu teguran terbuka dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, walaupun Netanyahu tetap membela keputusan operasi militer pencegatan flotila.
"not in line with Israel’s values," sebut Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Kritik internal kabinet juga datang dari Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar melalui media sosial X yang menyebut tindakan tersebut memalukan.
"You knowingly caused harm to our state in this disgraceful display – and not for the first time," cetus Gideon Saar, Menteri Luar Negeri Israel.
Saar menambahkan bahwa pamer kekerasan di media sosial itu telah menghancurkan kerja keras diplomasi yang telah dibangun dengan profesional.
"undone tremendous, professional, and successful efforts made by so many people," tambah Gideon Saar.
Merespons situasi ini, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid memberikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri RI atas keberhasilan pemulangan sembilan WNI melalui kerja sama dengan negara mitra seperti Turki, Mesir, dan Yordania.
"Despite having no diplomatic relations with Israel, the Foreign Ministry managed to build effective coordination with partner countries such as Türkiye, Egypt, and Jordan," kata Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI.
Hidayat mendesak agar Indonesia mendorong Dewan HAM PBB untuk menggalang sanksi internasional terhadap Israel atas pelanggaran hukum humaniter.
"This development will be more meaningful if Indonesia works with other countries to take legal actions, including imposing sanctions on Israel for offending human rights and violating international law," pungkas Hidayat Nur Wahid.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono memberikan konfirmasi bahwa sembilan aktivis asal Indonesia tersebut sudah tiba di Istanbul pada hari Kamis untuk menjalani proses repatriasi ke tanah air.