Masyarakat Indonesia kerap mengaitkan tanggal 21 Mei dengan Hari Reformasi karena berdekatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei. Hubungan ini muncul akibat besarnya momentum Reformasi 1998 yang berhasil mengubah arah perpolitikan di tanah air.
Dikutip dari Caritahu, pemerintah sebenarnya tidak menetapkan Hari Reformasi sebagai hari nasional resmi seperti halnya Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan ini lebih menjadi momen sejarah bagi publik untuk mengingat pergerakan mahasiswa dan rakyat dalam menyudahi era Orde Baru.
Arsip Nasional RI mencatat bahwa puncak gerakan Reformasi terjadi pada 21 Mei 1998 saat Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya. Keputusan tersebut diambil oleh Presiden ke-2 Republik Indonesia itu setelah memimpin negara selama lebih dari 32 tahun.
Pengunduran diri Soeharto dipicu oleh gelombang aksi unjuk rasa besar dari kalangan mahasiswa di berbagai wilayah, dengan pusat gerakan di Jakarta. Rangkaian peristiwa bersejarah ini berlangsung intensif sepanjang pertengahan Mei 1998, tepatnya dari tanggal 12 sampai 21 Mei.
Faktor Kedekatan Dua Momentum Nasional
Terdapat tiga alasan utama yang membuat Hari Reformasi dan Hari Kebangkitan Nasional kerap dibahas bersamaan setiap memasuki tanggal 20 Mei. Faktor pertama adalah waktu peringatan yang hanya berselisih satu hari, di mana Harkitnas jatuh pada 20 Mei dan mundurnya Soeharto terjadi pada 21 Mei.
Faktor kedua terletak pada kesamaan esensi pergerakan yang berkaitan dengan kebangkitan bangsa. Jika Kebangkitan Nasional 1908 menandai perlawanan terhadap penjajahan melalui Budi Utomo, maka Reformasi 1998 menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap krisis ekonomi, korupsi, serta otoritarianisme.
Faktor ketiga adalah peran besar pelajar dan mahasiswa sebagai motor perjuangan. Kaum terdidik menjadi penggerak utama pada masa pergerakan nasional awal abad ke-20, sementara mahasiswa 1998 menjadi barisan terdepan dalam menuntut perubahan sistem politik.
Sejarah mencatat sejumlah peristiwa krusial selama fase tersebut, termasuk Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menggugurkan empat mahasiswa. Insiden ini diikuti oleh kerusuhan massal hingga aksi pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa sebelum mundurnya presiden.
Pasca-Reformasi, Indonesia memulai era baru yang membawa pembaruan pada sistem ketatanegaraan. Perubahan tersebut meliputi lahirnya kebebasan pers, pelaksanaan pemilu yang demokratis, pembatasan masa jabatan presiden, serta pembentukan berbagai lembaga independen baru.