Amerika Serikat dan Iran Saling Serang di Kawasan Teluk

Amerika Serikat dan Iran Saling Serang di Kawasan Teluk

Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke sejumlah situs radar pengawas pantai di Iran selatan setelah mencegat gelombang drone dan tujuh rudal balistik yang ditembakkan pasukan Teheran menuju Selat Hormuz serta pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain pada Sabtu (6/6/2026).

Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara berhasil melumpuhkan enam rudal balistik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, sementara satu rudal gagal mencapai target tanpa menimbulkan korban jiwa dari personel militer Barat.

Konflik maritim ini dipicu oleh langkah militer Washington yang menjatuhkan empat drone serang satu arah milik Iran karena dinilai mengancam keamanan lalu lintas maritim regional, yang kemudian direspons IRGC dengan mengaktifkan serangan rudal kedirgantaraan ke fasilitas militer koalisi asing.

Kementerian Luar Negeri Bahrain mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai agresi terang-terangan yang melanggar kedaulatan nasional serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817, sementara militer Kuwait juga mengumumkan pencegatan rudal dan UAV serupa di wilayahnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan keterangan mengenai penurunan signifikan kapasitas militer Iran yang kini diklaim hanya menyisakan sebagian kecil persenjataan dari total persediaan awal sebelum konflik pecah.

"They have some missiles, they have some drones. I would say, percentage wise, maybe 21%-22% of their missiles. It is a lot of missiles, but it is not like when we first attacked," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menambahkan bahwa para pemimpin di Teheran belum bersedia mencapai kesepakatan damai karena memiliki kebanggaan nasional yang besar, di tengah situasi pertempuran intensif yang juga terjadi di Lebanon selatan antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah.

"Because they berfungsi sebagai strong. They are proud. There are things they never expected they would be doing that they have to do, they don't have a choice, and it takes a little time," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pemerintah Washington menyatakan komitmen untuk segera menyelesaikan keterlibatan militer AS di kawasan tersebut, baik melalui jalur diplomasi formal maupun opsi penegakan hukum yang keras.

"We’re going to come out of Iran very quickly and it’s going to be very strong one way or the other, whether it’s a piece of paper or the very tough way," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump juga mengakui bahwa penyelesaian konflik ini merupakan hal yang sangat berat bagi semua pihak yang terlibat.

"it’s a very hard thing," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Di sisi lain, Trump membandingkan durasi konflik maritim di Teluk yang baru memasuki bulan ketiga ini dengan sejarah intervensi militer jangka panjang AS di masa lalu.

"I’m into three months, you know. Vietnam lasted 19 years. I’m into my third month," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Sementara itu, pihak berwenang di Lebanon turut menyoroti dampak pertempuran sekutu Iran di wilayah mereka, terutama terkait keselamatan petugas medis di lapangan.

"The targeting of parademics during rescue operations [is] an act that constitutes a barbaric violation of international humanitarian law," kata kementerian kesehatan Lebanon.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons situasi diplomasi regional dengan menolak keras tudingan Presiden Lebanon Joseph Aoun yang menyebut Teheran menggunakan negaranya sebagai posisi tawar dengan blok barat.

"Had Lebanon been a bargaining chip for Iran, we’d have a deal long ago," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Araghchi kemudian mendesak pemerintah di Beirut untuk lebih fokus menghadapi pergerakan pasukan infanteri Israel yang saat ini terus merangsek ke wilayah utara.

"Save Lebanon from your real foe, Mr. President," tambah Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Penasihat pemimpin tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan kepada CNN bahwa syarat utama penghentian konflik adalah pencairan aset negara sebesar 24 miliar dolar AS yang dibekukan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Artikel terkait

Rekomendasi