Fenomena El Nino Kuat Mengancam Wilayah Indonesia

Fenomena El Nino Kuat Mengancam Wilayah Indonesia

Fenomena iklim ekstrem El Nino berpotensi berkembang menjadi kategori kuat hingga sangat kuat yang mengancam wilayah Indonesia pada paruh kedua hingga akhir tahun 2026. Sinyal mengkhawatirkan tersebut muncul berdasarkan sejumlah indikator oseanografi dan atmosfer saat ini.

Ancaman perubahan cuaca ekstrem ini dilansir dari Detik iNET melalui pemaparan dalam forum ilmiah Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 pada Minggu (7/6/2026). Data prediksi dari model iklim internasional juga telah menunjukkan kecenderungan serupa terkait kenaikan suhu tersebut.

Kondisi laut di Samudra Pasifik dilaporkan mulai memperlihatkan perubahan signifikan yang mengarah pada pembentukan fase El Nino. Pergeseran massa air hangat ke arah timur dipicu oleh peningkatan cadangan panas di bawah permukaan laut.

"Berbagai data observasi dan model iklim menunjukkan perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik yang mengarah pada pembentukan El Niño. Salah satu indikator utama adalah meningkatnya cadangan panas di bawah permukaan laut Pasifik yang berpotensi mendorong perpindahan massa air hangat ke arah timur," ungkap Dwi, seperti dikutip dari laman BRIN.

Pergerakan massa air hangat dari Pasifik barat menuju Pasifik timur saat ini sedang didorong oleh gelombang Kelvin yang merupakan riak raksasa bawah laut di sepanjang ekuator. Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto menjelaskan bahwa pemantauan dapat dilakukan lewat tinggi muka laut, suhu bawah laut, hingga pola angin tropis.

Posisi Indonesia yang berada di kawasan western Pacific warm pool menjadikannya indikator penting sekaligus kunci dalam memahami sistem iklim global. Terlebih, wilayah perairan Nusantara juga dilintasi oleh jalur arus laut Indonesian Throughflow (Arlindo) yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Dampak buruk dari El Nino berpotensi berlipat ganda bagi Indonesia apabila terjadi interaksi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Risiko kekeringan panjang dan penurunan curah hujan drastis mengancam sektor pertanian serta lingkungan.

"Kita tidak bisa hanya melihat indeks El Niño. Kondisi Indian Ocean Dipole juga harus dipantau karena kombinasi keduanya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu fenomena yang terjadi," tegasnya.

Catatan sejarah pada peristiwa tahun 1997-1998 menjadi pelajaran buruk ketika kolaborasi El Nino kuat dan IOD positif memicu kebakaran hutan luar biasa di Indonesia. Penurunan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa dan Sumatra menjadi indikator kuat terjadinya fase IOD positif.

Langkah mitigasi segera harus dilakukan melalui pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, hingga penguatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah dan masyarakat diharapkan memakai informasi iklim ini sebagai dasar perencanaan wilayah.

"Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi