Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia Didominasi Pria Usia Produktif

Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia Didominasi Pria Usia Produktif

Kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih menunjukkan tren mengkhawatirkan dengan mayoritas korban merupakan laki-laki pada usia produktif. Fenomena ini dipicu oleh masalah sistemik mulai dari lemahnya pengawasan regulasi hingga perilaku pengguna jalan yang berisiko di berbagai wilayah tanah air.

Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai kondisi keselamatan transportasi jalan saat ini sudah masuk dalam tahap darurat. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Oto, faktor manusia menjadi penyebab utama dengan kontribusi mencapai 61 persen dari total kejadian.

"Mulai dari pengawasan regulasi yang lemah hingga perilaku pengguna jalan dan anggaran yang dipangkas," kata Djoko Setijowarno, Pengamat Transportasi.

Ia menegaskan bahwa tingginya angka kecelakaan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembangunan infrastruktur semata. Faktor kedisiplinan dan kompetensi pengemudi dianggap sebagai aspek fundamental yang harus segera dibenahi oleh pemangku kepentingan.

"Data ini menjadi alarm bahwa perbaikan keselamatan tidak cukup hanya dengan memperbaiki jalan atau mengecek mesin, tetapi juga harus menyentuh sisi fundamental, yakni kedisiplinan dan kompetensi penggunanya," sebut Djoko Setijowarno.

Risiko kematian di jalan raya terpantau sangat tinggi bagi kelompok muda, khususnya pelajar dan pekerja. Data dari Korlantas Polri serta PT Jasa Raharja menunjukkan angka kematian akibat kecelakaan telah menembus lebih dari 100 jiwa setiap harinya.

"Berdasarkan data Korlantas Polri dan PT Jasa Raharja, angka fatalitas kecelakaan telah melampaui 100 jiwa per hari. Didominasi oleh pengguna sepeda motor (75 persen), kecelakaan ini secara spesifik menyasar mereka yang tengah dalam masa produktif mulai dari pelajar hingga pekerja dengan rentang usia mayoritas antara 11 hingga 55 tahun (lebih 70 persen)," ujar Djoko Setijowarno.

Keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam statistik ini tercatat sangat signifikan, yakni berada pada kisaran 25 hingga 40 persen. Meski terdapat penurunan fatalitas sekitar 8 persen pada periode mudik 2026, profil korban tidak mengalami perubahan secara mendalam.

"Memang ada tren penurunan fatalitas sekitar 8 persen pada mudik 2026 ini jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun sayang, profil korbannya masih tetap sama: didominasi oleh kaum laki-laki yang sebenarnya sedang berada di usia puncak produktivitas mereka," sebut Djoko Setijowarno.

Artikel terkait

Rekomendasi