Arab Saudi Apresiasi Perubahan Pengelolaan Haji Indonesia 2026

Arab Saudi Apresiasi Perubahan Pengelolaan Haji Indonesia 2026

Pemerintah Arab Saudi mengapresiasi perubahan signifikan yang dilakukan Pemerintah Indonesia dalam mengelola 210 ribu jemaah haji 2026 di Makkah pada Kamis, 4 Juni 2026 kemarin, meskipun Indonesia tidak masuk dalam jajaran negara penerima penghargaan penyelenggara haji terbaik Labbaytum Award 2026.

Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mengumumkan penghargaan tahunan tersebut pada Jumat, 29 Mei 2026 pekan lalu, seperti dilansir dari Detikcom. Evaluasi internasional ini diberikan kepada negara dengan kinerja pelayanan terbaik dunia, seperti Irak, Malaysia, dan Ethiopia yang meraih Diamond Award, sedangkan Indonesia, India, dan Pakistan absen dari daftar pemenang.

Apresiasi terhadap pengelolaan haji tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan Saudi dalam pertemuan resmi dengan pihak Indonesia. Sistem penilaian saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi oleh negara dengan jumlah kuota jemaah yang sangat besar.

"Negara-negara dengan basis jemaah terbesar seperti Indonesia, India, dan Pakistan justru tidak masuk dalam award itu. Namun, yang jelas Pemerintah Arab Saudi sangat mengapresiasi perubahan signifikan yang dilakukan Indonesia," kata Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah Indonesia usai menerima kunjungan Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Dr. Fatah Al-Mashat, di Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah.

Kriteria penilaian penghargaan dari otoritas Saudi mengalami pergeseran dibandingkan dengan metode pada tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan berkala, Indonesia juga tidak memperoleh penghargaan serupa pada musim haji yang lalu.

"Pada 2025, Indonesia juga tidak mendapatkan penghargaan 'labbaytum'. Namun, survei Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia Tahun 2025 mencapai 88,46 atau masuk kategori sangat memuaskan," kata Muchlis M Hanafi, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama RI Tahun 2025.

Faktor kuota besar dan kondisi demografis jemaah menjadi indikator krusial dalam kompleksitas pengawasan di lapangan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Zaky Zakaria Anshary menilai tingginya jumlah jemaah lansia, angka perawatan kesehatan, serta angka kematian yang relatif tinggi menjadi tantangan berat dalam mengelola lebih dari 220 ribu jemaah haji Indonesia setiap tahun.

Artikel terkait

Rekomendasi