Arab Saudi Siapkan Tindakan Operasional Militer Usai Infiltrasi Drone

Arab Saudi Siapkan Tindakan Operasional Militer Usai Infiltrasi Drone

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyiapkan tindakan operasional ketat guna menghadapi potensi infiltrasi udara setelah menghancurkan tiga drone asing asal Irak pada Minggu (17/5/2026) pagi. Langkah tegas ini diambil demi melindungi kedaulatan wilayah meskipun target spesifik maupun pihak bertanggung jawab belum dirinci.

Dilansir dari Detikcom, pengumuman penembakan jatuh pesawat tanpa awak yang melintasi perbatasan tersebut disampaikan langsung oleh otoritas militer Riyadh. Pihak kementerian memastikan bahwa pengawasan wilayah udara akan terus diperketat pascainsiden penyusupan.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki menyatakan komitmen penuh pihak kerajaan untuk mempertahankan wilayah udara dari segala bentuk ancaman luar di masa depan.

"berhak untuk merespons pada waktu dan tempat yang tepat" tegas Turki al-Maliki, Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi.

Pihak kementerian kemudian menekankan kesiapan penuh dalam memperkuat keamanan wilayah demi memastikan keselamatan publik pasca-insiden penyusupan tersebut.

"Akan mengambil dan menerapkan semua tindakan operasional yang diperlukan untuk merespons setiap upaya untuk melanggar kedaulatan, keamanan, dan keselamatan warga negara serta penduduk," kata Turki al-Maliki, Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi.

Pemerintah Arab Saudi juga mengonfirmasi langkah-langkah pengamanan lanjutan demi melindungi kedaulatan wilayahnya dari gangguan serupa, seperti dikutip dari Arab News.

“Kerajaan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk merespons setiap upaya pelanggaran terhadap kedaulatan, keamanan, serta keselamatan warga dan penduduk,” ujarnya.

Sebelum peristiwa ini terjadi, Kementerian Luar Negeri Saudi telah memanggil Duta Besar Irak di Riyadh pada bulan lalu akibat ancaman serangan serupa yang menyasar kawasan Saudi dan negara Teluk. Di sisi lain, Pemerintah Irak membantah sistem pertahanan udara mereka mendeteksi aktivitas tersebut, namun kini telah membuka penyelidikan resmi serta meminta transparansi data intelijen dari Arab Saudi.

Pada hari yang sama, serangan pesawat tanpa awak memicu kebakaran generator listrik di luar perimeter dalam kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Insiden tersebut berhasil ditangani oleh otoritas setempat tanpa adanya korban luka maupun kebocoran dampak radiasi.

"Otoritas di Abu Dhabi merespons insiden kebakaran yang terjadi pada generator listrik di luar perimeter dalam kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di wilayah Al Dhafra, yang disebabkan oleh serangan drone," demikian pernyataan Kantor Media Abu Dhabi.

Situasi regional di Timur Tengah sendiri terus memanas sejak Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalasnya dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS, hingga memicu pembatasan Selat Hormuz oleh Iran dan blokade angkatan laut oleh AS sejak 13 April.

Gencatan senjata sempat dimediasi Pakistan pada 8 April namun perundingan damai permanen tersebut berujung gagal. Saat ini, status gencatan senjata diperpanjang secara sepihak oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu, kendati blokade laut militer Amerika Serikat di jalur perairan strategis itu tetap diberlakukan.

Artikel terkait

Rekomendasi