Arif Prasetyo, seorang penyandang disabilitas netra asal Ngawen, resmi ditetapkan sebagai penerima beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas pada Jumat, 10 April 2026. Ia akan melanjutkan studi pada program Magister Manajemen Pendidikan Islam setelah berhasil mengatasi berbagai hambatan aksesibilitas.
Keberhasilan Arif menembus program prestisius ini dilaporkan oleh Edukasi melalui laman resmi LPDP. Laporan tersebut menyoroti kemampuan Arif melampaui ambang batas skor TOEFL meski sempat ditolak oleh beberapa lembaga penyedia tes di Yogyakarta yang mengaku belum siap memfasilitasi tunanetra.
Strategi inklusi dilakukan Arif dengan mendaftar ke lembaga bahasa tanpa mengungkap kondisinya di awal guna mendorong penyedia jasa menciptakan sistem ujian yang ramah disabilitas. Perjuangan ini membuahkan hasil manis bagi pria yang memiliki latar belakang keluarga pengamen dan tukang pijat tersebut.
"Hadirnya LPDP membuat saya dan teman-teman disabilitas lainnya bisa meraih mimpi, melanjutkan pendidikan, dan menikmati pendidikan yang setara," kata Arif Prasetyo, penerima beasiswa LPDP.
Penetapan Arif sebagai penerima beasiswa menjadi sorotan positif di tengah catatan data bahwa empat dari delapan alumni LPDP harus membayar denda sanksi karena melanggar kewajiban pengabdian. Berbanding terbalik, Arif justru memiliki rekam jejak sosial yang kuat sejak masa mudanya.
Riwayat pendidikan Arif penuh tantangan karena sempat ditolak dua sekolah umum saat jenjang sekolah dasar sebelum akhirnya lulus dari SDLB Kota Yogyakarta. Ia kemudian aktif mendirikan Braille School melalui komunitas Braillient Indonesia serta menginisiasi gerakan walking tour untuk menguji kualitas fasilitas publik bagi disabilitas.
Selain fokus pada isu pendidikan dan aksesibilitas, Arif juga berkontribusi dalam dunia kreatif melalui Sat Adhirajasa. Komunitas sutradara film tersebut menjadi wadah kolaborasi antara penyandang disabilitas dan nondisabilitas dalam menghasilkan karya visual.