Militer AS Hancurkan Enam Kapal Iran di Selat Hormuz

Militer AS Hancurkan Enam Kapal Iran di Selat Hormuz

Pasukan Amerika Serikat menghancurkan enam kapal kecil milik Iran dan menembak jatuh sejumlah rudal serta pesawat nirawak yang mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz pada Senin (5/5/2026). Operasi militer ini dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat akibat blokade laut yang telah memutus seperlima pengiriman minyak dunia.

Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengungkapkan bahwa helikopter Apache dan Seahawk milik militer Amerika Serikat terlibat langsung dalam serangan terhadap kapal-kapal Iran tersebut. Selain itu, sistem pertahanan udara Amerika juga berhasil mencegat proyektil yang diarahkan ke kapal Angkatan Laut AS dan kapal kargo komersial.

"enam kapal kecil Iran yang mengancam pelayaran komersial," kata Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS.

Cooper menyatakan bahwa seluruh upaya serangan dari pihak lawan berhasil dipatahkan sebelum mengenai target sasaran. Pernyataan ini sekaligus menjadi bantahan atas klaim media Iran yang menyebut adanya rudal yang mengenai kapal perang Amerika Serikat di dekat pelabuhan Jask.

"secara efektif menghadang" semua "rudal dan drone yang ditembakkan ke arah kami dan kapal-kapal komersial," kata Cooper.

Laksamana Brad Cooper menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tersebut memiliki dampak krusial bagi perekonomian global. Hal ini berkaitan dengan pengamanan jalur distribusi energi yang terganggu akibat konflik.

"Dukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global karena kami juga mempertahankan blokade angkatan laut," kata Laksamana Brad Cooper dalam sebuah pernyataan.

Sebelum insiden penghancuran kapal tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan peluncuran 'Project Freedom' pada Senin pagi. Operasi ini bertujuan untuk memandu kapal-kapal komersial yang terjebak di perairan terbatas akibat perang melawan Iran yang telah berlangsung selama dua bulan.

"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal mereka dengan aman keluar dari perairan terbatas ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.

Pengerahan kekuatan militer dalam operasi ini mencakup 15.000 personel, lebih dari 100 pesawat, dan kapal perusak rudal berpemandu. Berdasarkan data CENTCOM, sebanyak 50 kapal komersial telah dipaksa mengubah haluan untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade laut di sekitar pelabuhan Iran.

Dari pihak Teheran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bahwa prioritas utama pemerintahnya saat ini adalah mengakhiri peperangan. Namun, ia menekankan agar pihak lawan mengubah posisi tawar mereka dalam negosiasi yang kini sedang buntu.

"Pada tahap ini, prioritas kami adalah mengakhiri perang," kata Baghaei dalam pernyataannya.

Baghaei mengkritik tuntutan Amerika Serikat yang dianggap terlalu berlebihan sehingga menghambat proses perdamaian. Hingga saat ini, perundingan yang dimediasi oleh Pakistan baru berjalan satu putaran sejak gencatan senjata bulan April lalu.

"Pihak lain harus berkomitmen pada pendekatan yang beralasan dan meninggalkan tuntutan berlebihan mereka terkait Iran," cetusnya.

Sementara itu, pimpinan komando terpadu pasukan Iran, Ali Abdollahi, memberikan peringatan keras terhadap pergerakan militer asing. Ia mengklaim bahwa wilayah Selat Hormuz berada sepenuhnya di bawah otoritas keamanan Iran.

"Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata asing, terutama Angkatan Darat AS yang agresif, akan diserang jika mereka berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz," tegas Ali Abdollahi, kepala komando terpadu pasukan Iran.

Abdollahi menambahkan bahwa setiap kapal yang melintas wajib melakukan koordinasi dengan otoritas militer Iran untuk menjamin keamanan jalur tersebut. Ketegangan ini dilaporkan telah memicu lonjakan harga minyak hingga 50 persen di pasar internasional.

"Kami telah berkali-kali mengatakan bahwa keamanan Selat Hormuz ada di tangan kami dan bahwa jalan aman bagi kapal-kapal perlu dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata," kata Ali Abdollahi dalam pernyataan resminya.

Artikel terkait

Rekomendasi