AS dan Iran Susun Draf Kesepakatan Sementara Hentikan Konflik Bersenjata

AS dan Iran Susun Draf Kesepakatan Sementara Hentikan Konflik Bersenjata

Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah mematangkan draf kesepakatan terbatas yang bersifat sementara guna menghentikan konflik bersenjata di antara kedua negara. Langkah diplomatik ini melibatkan Pakistan sebagai mediator utama dalam proses perundingan yang berlangsung pada Mei 2026.

Dilansir dari Suara, draf kerangka kerja tersebut lebih menitikberatkan pada penghentian pertempuran fisik di lapangan. Meskipun demikian, sejumlah isu krusial dan kontroversial antara Washington dan Teheran hingga kini dikabarkan masih belum mencapai titik temu sepenuhnya.

Rencana yang tengah disusun ini merupakan memorandum jangka pendek dan bukan merupakan perjanjian perdamaian yang komprehensif. Upaya tersebut menjadi sinyal kuat untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut di tengah perbedaan visi yang masih sangat tajam antara kedua pihak.

Munculnya harapan terhadap kesepakatan parsial ini segera memicu reaksi positif di pasar keuangan dan komoditas dunia. Indeks saham global terpantau melonjak hingga mendekati level rekor tertinggi pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, seiring meningkatnya optimisme para pelaku pasar.

Sektor energi juga merasakan dampak signifikan dengan adanya koreksi harga minyak mentah jenis Brent sebesar 4 persen ke level US$90 per barel. Penurunan ini melanjutkan tren koreksi tajam sebesar 8 persen yang terjadi pada hari sebelumnya.

Saat informasi ini disusun, harga minyak Brent bahkan merosot hingga 4,3 persen di angka US$96 per barel. Spekulasi mengenai normalisasi pasokan energi global menguat seiring rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat mengalami gangguan akibat ketegangan militer.

Tahapan Kerangka Kerja Tiga Fase

Berdasarkan keterangan dari sumber diplomatik, terdapat tiga fase utama dalam kerangka kerja yang diusulkan. Tahap pertama dimulai dengan pengakhiran perang secara formal, diikuti penyelesaian krisis blokade di Selat Hormuz pada tahap kedua.

Fase terakhir akan melibatkan pembukaan jendela negosiasi selama 30 hari untuk membahas perjanjian yang lebih luas dan mendalam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyatakan optimisme tinggi mengenai kelanjutan proses mediasi ini di Islamabad.

"Kami mengharapkan kesepakatan tercapai dalam waktu dekat," ujar Tahir Andrabi dikutip dari Reuters.

Prioritas utama pihak mediator saat ini adalah memastikan adanya pengumuman penghentian perang secara permanen. Setelah stabilitas keamanan tercapai, pembahasan akan berlanjut pada rincian teknis yang lebih kompleks di masa mendatang.

Tanggapan Beragam dari Washington dan Teheran

Presiden AS Donald Trump terus menunjukkan sikap optimistis terkait kemajuan pembicaraan tersebut di hadapan publik. Ia meyakini bahwa kesepakatan antara kedua negara memiliki peluang besar untuk segera diselesaikan dalam waktu yang singkat.

"Mereka ingin membuat kesepakatan... itu sangat mungkin terjadi. Ini akan selesai dengan cepat," kata Donald Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Sebaliknya, reaksi yang lebih dingin datang dari otoritas di Teheran meskipun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan akan memberi tanggapan resmi. Sejumlah anggota legislatif Iran justru meragukan niat baik dari proposal yang diajukan oleh pihak Amerika Serikat.

Ebrahim Rezaei, seorang anggota parlemen Iran, menilai draf tersebut tidak merefleksikan realitas politik yang ada. Ia menganggap poin-poin dalam proposal tersebut cenderung lebih menyerupai daftar keinginan sepihak dari pihak Washington.

Kritik tajam juga dilontarkan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Ia secara terbuka meragukan laporan mengenai kedekatan kesepakatan tersebut dengan istilah sindiran yang mengisyaratkan kegagalan upaya AS untuk membuka Selat Hormuz melalui kekuatan militer.

Situasi Keamanan Regional

Di saat proses diplomasi berjalan, suhu politik di tingkat regional tetap berada dalam level waspada. Israel dilaporkan melakukan serangan udara di Beirut yang menewaskan seorang komandan Hizbullah, yang merupakan serangan pertama ke ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata bulan lalu.

Hizbullah sendiri diketahui mulai aktif melakukan serangan sejak 2 Maret sebagai bentuk dukungan terhadap posisi Iran di kawasan. Situasi ini menambah kompleksitas proses negosiasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.

Draf memorandum saat ini juga diketahui belum menyentuh dua tuntutan utama Amerika Serikat. Tuntutan tersebut meliputi penghentian dukungan Iran terhadap kelompok milisi di Timur Tengah serta kepastian nasib cadangan 400 kg uranium milik Iran yang mendekati level senjata nuklir.

Artikel terkait

Rekomendasi