Amerika Serikat meluncurkan Project Freedom untuk memandu kapal-kapal melalui Selat Hormuz pada Selasa (5/5/2026) setelah ketegangan meningkat akibat blokade wilayah perairan tersebut oleh Iran. Operasi militer ini dimulai dengan serangan helikopter Amerika Serikat yang menargetkan tujuh kapal cepat milik Iran di jalur strategis tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi tindakan militer tersebut melalui pernyataan resmi terkait penggunaan kekuatan udara terhadap armada kecil Iran. Washington mengerahkan aset militer untuk memastikan keamanan jalur perdagangan dunia yang sempat terhenti sejak Februari lalu.
"Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, 'kapal cepat'. Itu saja yang mereka miliki," kata Presiden AS Donald Trump.
Pernyataan Gedung Putih tersebut berbeda dengan laporan dari pihak Teheran mengenai dampak serangan di lapangan. Kantor berita Tasnim yang mengutip sumber militer Iran menyatakan bahwa serangan itu justru mengenai kapal kargo sipil.
"Iran telah menembak beberapa negara yang tidak terkait dengan pergerakan kapal, Proyek Freedom, termasuk sebuah Kapal Kargo Korea Selatan," ujar Trump dilansir dari akun media sosial Truthsocial milik Trump.
Meskipun terjadi kontak senjata, sebuah kapal berbendera Amerika Serikat dilaporkan berhasil keluar dari zona konflik dengan bantuan pengawalan militer. Perusahaan pelayaran Maersk mengonfirmasi bahwa kapal Alliance Fairfax telah melintasi Selat Hormuz tanpa insiden setelah terdampar sejak akhir Februari.
"Kapal tersebut kemudian keluar dari Teluk Persia ditemani oleh aset militer AS tanpa insiden, dan semua awak kapal selamat serta tidak terluka," tambah Maersk.
Di sisi lain, militer Iran tetap bersikeras bahwa wilayah perairan tersebut berada di bawah yurisdiksi mereka sepenuhnya. Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa setiap kekuatan asing harus berkoordinasi dengan otoritas Iran jika ingin melintas.
"setiap kekuatan bersenjata asing" yang mencoba mendekati atau memasuki selat itu, "terutama tentara AS yang agresif," kata kepala komando pusat Iran dalam sebuah pernyataan.
Ebrahim Azizi, anggota parlemen senior Iran, memperingatkan bahwa keterlibatan militer Washington berisiko merusak kesepakatan damai yang sedang diupayakan kedua negara. Menurutnya, tindakan Amerika Serikat dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata sementara yang berlaku sejak April.
"setiap campur tangan Amerika" akan "dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata," tulis Ebrahim Azizi di media sosial.
Ketegangan ini terus dipantau secara ketat karena Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai langkah militer yang diambil Amerika Serikat tidak akan menyelesaikan akar permasalahan politik yang sedang terjadi.
"Proyek kebebasan adalah proyek kebuntuan," imbuh Abbas Araghchi.
Sementara itu, US Central Command (CENTCOM) mengeluarkan klarifikasi resmi mengenai kondisi keamanan kapal dagang mereka di lokasi kejadian. Pernyataan ini dikeluarkan untuk menanggapi klaim penyerangan yang sempat beredar di media sosial.
“Sebagai langkah pertama, 2 kapal dagang berbendera AS telah berhasil melintasi Selat Hormuz dan dengan aman melanjutkan perjalanan mereka,” tulis Centcom di X.