Pemerintah Amerika Serikat (AS) merancang rencana untuk mengalihkan aset-aset milik Iran kepada negara-negara di kawasan Teluk. Pengalihan ini ditujukan bagi pembangunan kembali serta perbaikan berbagai kerusakan yang dipicu oleh tindakan Iran.
Langkah penanganan tersebut diungkapkan oleh seorang sumber yang mengetahui persoalan ini. Seperti dikutip dari Detik Finance, rencana kebijakan tersebut mencuat setelah Iran kembali meluncurkan serangan drone ke Bahrain dan Kuwait pada Sabtu (6/6).
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dilaporkan telah menginstruksikan sebuah tim khusus untuk melakukan kalkulasi. Tim ini bertugas menghitung total biaya kerugian yang dialami oleh para sekutu AS di Teluk akibat agresivitas Iran.
Pihak Gedung Putih mempertimbangkan pemanfaatan aset Iran tersebut guna mengompensasi dampak kerusakan di masa depan. Kabar ini beredar hanya berselang satu hari setelah pernyataan penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei.
Kepada CNN, Mohsen Rezaei menyatakan bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri perang tiga bulan ini sangat bergantung pada pencairan aset. Iran mendesak pencairan dana senilai US$ 24 miliar yang saat ini dibekukan oleh AS.
Hingga kini, Departemen Keuangan AS belum merinci jenis aset apa saja yang masuk dalam daftar pemeriksaan. Namun, sinyalemen yang muncul mengindikasikan bahwa tindakan ini tidak sekadar menyasar aset yang telah dibekukan.
Upaya pengalihan aset ini berpotensi memicu ketegangan baru pada komitmen gencatan senjata yang masih rapuh. Situasi gencatan senjata antara AS dan Iran tersebut kembali diuji oleh aksi saling serang dari kedua belah pihak.
Proses diplomasi menuju perdamaian tampaknya menemui jalan buntu. Padahal, seorang menteri dari Pakistan yang bertindak sebagai mediator telah bertolak ke Iran untuk menyerahkan surat kepada pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Eskalasi Militer di Selat Hormuz
Ketegangan militer juga terus meningkat di jalur laut strategis. Pasukan militer AS menggempur situs radar pesisir Iran yang berada di Goruk dan Pulau Qesh di Selat Hormuz.
Operasi serangan udara tersebut dilancarkan setelah armada militer AS berhasil menembak jatuh drone yang diterbangkan oleh pihak Iran.
Berdasarkan keterangan Komando Pusat AS (CENTCOM), pergerakan drone Iran dinilai mengancam keamanan lalu lintas maritim. Militer AS melumpuhkan dua drone tempur Iran lainnya yang dianggap membahayakan aktivitas pelayaran di selat tersebut.