AS Berikan Sanksi 14 Entitas Global Terkait Militer Iran

AS Berikan Sanksi 14 Entitas Global Terkait Militer Iran

Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap 11 entitas dan tiga individu yang berbasis di Timur Tengah, China, Belarus, hingga Uni Emirat Arab pada Minggu (10/5/2026). Langkah ini diambil atas dugaan keterlibatan mereka dalam mendukung program rudal balistik dan pesawat nirawak milik militer Iran.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa jaringan tersebut mencakup perusahaan penyedia citra satelit yang membantu operasi militer Teheran. Kebijakan ini menyasar pihak-pihak yang memfasilitasi pengadaan persenjataan dan bahan baku krusial bagi pengembangan teknologi pertahanan Iran, sebagaimana dilansir dari Money.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menjelaskan bahwa sanksi ini mencakup tindakan terhadap entitas di China yang membantu serangan terhadap personel Amerika Serikat. Penindakan tersebut menjadi bagian dari strategi Washington untuk memperlemah kapasitas militer Iran di tengah ketegangan kawasan yang terus meningkat.

"Dalam tindakan hari ini termasuk beberapa entitas berbasis di China yang menyediakan citra satelit untuk mendukung serangan militer Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Rubio menegaskan bahwa pembatasan ini merupakan instrumen penting untuk menekan ruang gerak militer Iran. Washington saat ini juga sedang menunggu tanggapan resmi dari pihak Teheran mengenai proposal perdamaian yang bertujuan untuk mengakhiri konflik bersenjata.

"Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menekan kemampuan militer Iran di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung," tegas Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Meskipun Amerika Serikat mengharapkan jawaban segera, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pemerintah mereka masih melakukan peninjauan pesan yang dikirim melalui perantara Pakistan. Belum ada keputusan akhir yang diambil oleh Teheran terkait tawaran nota kesepahaman 14 poin tersebut.

Situasi di lapangan tetap tegang, terutama di jalur perdagangan strategis Selat Hormuz yang menjadi lokasi saling tuduh terkait serangan militer. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan penilaian terhadap kondisi gencatan senjata yang dianggapnya masih tetap bertahan.

"love tap" ujar Donald Trump, Presiden AS.

Trump juga mengklaim bahwa pihak Iran sebenarnya memiliki keinginan untuk mencapai sebuah kesepakatan damai. Namun, Rubio memberikan peringatan keras terhadap rencana pembentukan lembaga baru oleh Iran yang bertujuan untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz.

"ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah" ujar Badan Energi Internasional (IEA).

Kawasan Selat Hormuz memegang peranan krusial bagi ekonomi global karena dilalui oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah perairan ini terus menciptakan tekanan signifikan terhadap stabilitas pasar energi internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi