Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap berbagai target strategis di Iran pada Jumat (8/5/2026) sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal perusak Angkatan Laut AS di Selat Hormuz. Eskalasi ini memicu kekhawatiran global terhadap potensi runtuhnya gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Dilansir dari Money, serangan balasan Washington menyasar pusat komando, fasilitas intelijen, serta basis peluncuran rudal dan drone milik Teheran. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa sebelumnya Iran menyerang kapal perang AS menggunakan kombinasi rudal, drone, dan kapal kecil, meski tidak ada aset militer AS yang mengalami kerusakan.
Presiden AS Donald Trump memberikan penegasan mengenai posisi Washington terhadap agresi Iran tersebut. Ia memperingatkan adanya konsekuensi yang lebih berat apabila pihak Teheran tidak segera menyepakati usulan damai yang telah diajukan sebelumnya.
“Seperti ketika kami kembali melumpuhkan mereka hari ini, kami akan menghantam mereka jauh lebih keras dan lebih brutal di masa mendatang jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan itu,” tulis Trump melalui media sosialnya, Jumat (8/5/2026).
Trump menjelaskan bahwa meskipun terjadi aksi saling serang, status gencatan senjata secara teknis masih berlaku. Pemimpin Amerika Serikat tersebut menilai tindakan Iran sebagai upaya provokasi terhadap kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah.
“Mereka mencoba mengusik kami hari ini. Kami menghancurkan mereka,” kata Trump kepada wartawan di Washington.
Melalui keterangan lanjutannya di hadapan media, Trump menyatakan akan memberikan pengumuman resmi jika kesepakatan penghentian permusuhan benar-benar berakhir. Ia mengisyaratkan skala serangan AS di masa depan akan terlihat sangat jelas.
“Saya akan memberi tahu jika tidak ada lagi gencatan senjata. Anda tidak perlu diberi tahu, cukup lihat saja cahaya besar yang keluar dari Iran,” lanjut dia.
Terkait prospek perdamaian, Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan diplomatik masih mungkin tercapai. Ia meyakini Iran memiliki kepentingan yang lebih besar untuk segera mengakhiri konflik bersenjata ini.
“Mungkin saja tidak terjadi, tetapi bisa terjadi kapan saja. Saya yakin mereka lebih menginginkan kesepakatan itu dibanding saya,” ujar Trump.
Kondisi pasar keuangan global turut bereaksi terhadap ketidakpastian ini melalui fluktuasi harga minyak dan pelemahan bursa saham. Co-founder Ten Cap Investment Management, Jun Bei Liu, memberikan pandangannya mengenai perilaku para pelaku pasar di tengah volatilitas ini.
“Dalam jangka pendek, mungkin masih ada volatilitas akibat berita seperti hari ini. Namun pasar kemungkinan akan memanfaatkan pelemahan untuk membeli, kecuali eskalasi konflik menjadi jauh lebih parah,” kata Liu.
Konflik yang telah memasuki bulan ketiga ini telah menyebabkan lonjakan harga bensin di AS hingga menembus 4,50 dollar AS per galon. Di tengah tekanan domestik dan internasional, Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026 untuk membahas stabilitas energi global.
Sementara itu, mediator dari Pakistan dijadwalkan akan menyampaikan respons resmi Iran terhadap proposal damai AS dalam dua hari ke depan. Namun, media pemerintah Iran, ISNA, menekankan bahwa pembahasan mengenai penghentian pengayaan uranium belum menjadi bagian dari agenda negosiasi saat ini.