Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) kementerian di Jakarta Pusat merasakan dampak signifikan dari kebijakan bekerja dari rumah (WFH) yang telah berlaku selama satu bulan. Kebijakan ini diterapkan guna menekan konsumsi bahan bakar minyak akibat gejolak harga energi global.
Dilansir dari Lestari, Rusdi yang merupakan warga Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, mampu menghemat pengeluaran rutin karena frekuensi perjalanan ke kantor berkurang. Ia biasanya memerlukan lebih dari 1 liter bensin atau setara Rp 15.000 untuk perjalanan pulang-pergi setiap harinya.
Sistem kerja yang dijalani Rusdi mencakup jatah WFH selama dua hari dalam seminggu, yakni setiap Jumat dan satu hari tambahan sesuai instruksi pimpinan. Secara akumulatif, penghematan biaya transportasi yang didapatkan mencapai sedikitnya Rp 120.000 setiap bulan sejak aturan tersebut diimplementasikan.
Efisiensi waktu juga menjadi poin krusial mengingat durasi perjalanan normal dari rumahnya menuju Jakarta Pusat memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit. Dalam satu hari kerja di kantor, Rusdi menghabiskan total waktu setidaknya 2 jam 30 menit hanya untuk mobilitas di jalan.
"Produktivitas naik. Jujur saja, karena efektivitas di waktu. Waktu tempuh perjalanan rata-rata 2 jam setengah pulang pergi. Artinya, menghemat waktu dan enggak kelelahan. Jika sekarang harus pergi ke kantor, mungkin masih di jalan (tua di jalan)," ujar Rusdi, ASN Kementerian.
Pemilihan lokasi tempat tinggal di Babelan didasari oleh pertimbangan efisiensi biaya sewa setelah dirinya berkeluarga. Rusdi menjelaskan bahwa harga sewa rumah yang layak di dekat area perkantoran Jakarta Pusat bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan kontrakannya saat ini.
"Siapa yang enggak mau dekat dengan kantor, semua mau, tapi terkendala biaya, meski ASN ya. Di sini, rumah kontrakannya lebih murah dan luas, di lingkungan perumahan. Cocok untuk yang sudah berkeluarga," tutur Rusdi, ASN Kementerian.
Meski hemat secara transportasi, Rusdi menghadapi kendala bencana banjir di lokasi kontrakannya yang sempat terjadi empat kali pada awal tahun 2026. Banjir terparah tercatat pada Minggu (18/1/2026) yang memaksa dirinya mengeluarkan biaya perbaikan sanitasi dan biaya pengungsian sementara di hotel.