Bakti Amri Lubab: Menjadi Kaki bagi Sang Ibu di Tanah Suci

Bakti Amri Lubab: Menjadi Kaki bagi Sang Ibu di Tanah Suci

Di tengah lautan manusia yang memadati pelataran Masjidil Haram, bibir Tsamrotul Fuadah (53) tak henti melantunkan doa. Di atas kursi rodanya, ia bergerak perlahan, membelah kerumunan jemaah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Namun, ia tidak sendirian dalam perjalanan spiritual yang penuh tantangan fisik ini.

Tepat di belakang kursi roda itu, seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Muhammad Amri Lubab berdiri dengan kokoh. Tangannya dengan telaten menggenggam kemudi kursi roda, memastikan sang ibu tetap nyaman dan aman di tengah hiruk-pikuk Makkah. Air mata Fuadah, calon haji asal Tangerang Selatan itu, akhirnya pecah saat netranya menangkap kemegahan Kakbah untuk pertama kalinya.

Ada rasa haru yang membuncah, bukan hanya karena ia sampai di Baitullah setelah penantian belasan tahun, melainkan juga karena menyaksikan bakti luar biasa dari putra tercintanya.

"Saya tidak bisa melukiskan dengan kata-kata, setelah menjalankan umrah wajib, terutama dengan semangat anak saya yang membuktikan baktinya kepada ibunya," tutur Fuadah dengan suara bergetar ketika ditemui di Makkah.

Amri telah sepenuhnya mewakafkan waktu dan tenaganya untuk menjadi tumpuan sang ibu. Saat prosesi tawaf dan sa'i yang menguras stamina, Fuadah sempat menawarkan untuk menyewa jasa pendorong kursi roda profesional demi meringankan beban putranya. Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Amri.

Sambil memeluk erat putranya, Fuadah mengenang momen ketika Amri menegaskan tekadnya untuk melayani sang ibu secara langsung tanpa bantuan pihak luar.

"Jangan, Ma. Biarkan ini menjadi takzim Amri kepada Mama hari ini. Jangankan mendorong, menggendong Mama pun Amri siap. Amri ingat cerita Mama tentang sahabat Nabi, Uwais," kata Fuadah.

Kesungguhan Amri bukan sekadar kata-kata. Ia mendorong sang ibu memutari Kakbah sebanyak tujuh kali, lalu kembali mengulangi prosesi yang sama untuk ibadah umrahnya sendiri pada hari yang sama. Kelelahan fisik seolah tak dirasakannya. Bahkan, Amri menangani segala kebutuhan harian ibunya secara mandiri, mulai dari mengurus keperluan personal hingga mencuci pakaian setiap hari, menolak menggunakan jasa binatu.

Fuadah melihat ketulusan itu sebagai buah dari didikan yang ia tanamkan sejak lama di rumah, yang kini terbayar manis di tanah yang paling dicintai Allah.

"Tenaganya biarkan habis buat merawat ibunya. Alhamdulillah, saya diberikan 'obat' yang luar biasa dari anak saya. Saya tidak takabur, namun saya bersyukur dengan pendidikan yang saya berikan dari rumah. Allah menunjukkannya di sini," puji Fuadah dengan raut wajah bangga dan terharu.

Sambil memandangi Amri dengan tatapan penuh kasih dari kursi rodanya, sebuah doa tulus ia panjatkan ke langit Tanah Suci.

"Ya Allah, jadikanlah anak saya penyejuk hati keluarga. Jauhkanlah ia dari orang-orang zalim, dan berilah ia kebahagiaan dunia akhirat. Dan semoga, haji kami semua dicatat sebagai haji yang mabrur," ucapnya.

Ujian Berat Menjelang Keberangkatan

Perjalanan Amri ke Tanah Suci sebenarnya mengemban amanah besar. Ia hadir untuk menggantikan posisi sang ayah yang berpulang ke Rahmatullah pada 24 Desember 2024 akibat penyakit jantung. Padahal, sejak 15 tahun silam, Fuadah dan mendiang suaminya telah mendaftar haji dengan harapan bisa berangkat bersama-sama.

Namun, ujian bagi Fuadah belum berakhir. Tepat sehari sebelum keberangkatan, yakni pada 22 April pagi, musibah menimpanya di Masjid Islamic Center BSD saat acara pelepasan jemaah. Ia tersandung anak tangga yang tak disadarinya hingga terjatuh cukup parah.

Kecelakaan itu sempat mengancam impian hajinya. Fuadah harus dievakuasi dengan ambulans dan melewati serangkaian prosedur medis yang menegangkan, mulai dari asrama haji Cipondoh hingga RSUD Kota Tangerang. Diagnosis awal berupa robekan otot sempat membuatnya pesimis.

"Saat dokter membacakan bahwa istitaah saya tetap diberlakukan dan saya bisa terbang, semuanya ikut menangis terharu. Teman-teman di asrama semua ikut menangis. Kalau saya sudah dipanggil oleh Yang Mempunyai Rumah, insya Allah saya akan mendapatkan pelayanan yang baik," kenang Fuadah sembari menyeka air matanya.

Meski diizinkan terbang, Fuadah harus menempuh perjalanan udara secara terpisah dari rombongannya dengan fasilitas kursi kelas bisnis demi menjaga kondisi kakinya. Namun, setibanya di Madinah, kenyataan pahit kembali terungkap melalui rontgen di Saudi German Hospital: ada patah tulang melingkar di bawah lututnya. Ia pun harus menjalani operasi selama lima setengah jam.

Dukungan Tak Terputus dari Lingkungan

Di balik ketangguhan Amri, ada dukungan dari lingkungan sekitar yang membuat Fuadah mampu bertahan. Rekan-rekan sekamarnya telah dianggap seperti keluarga sendiri yang sigap membantu meracik obat dan menyiapkan makanan berprotein tinggi.

Selain itu, peran Tim Lansia dan Disabilitas (Landis) serta Tim Kesehatan PPIH Arab Saudi sangat krusial dalam memberikan rasa aman bagi jemaah dengan kondisi khusus seperti Fuadah.

"Petugas haji selalu membantu kebutuhan harian calon haji di hotel, mulai dari mandi, hingga hal-hal yang bersifat personal. Tim kesehatan juga melakukan visitasi secara rutin, hingga tiga kali sehari untuk memastikan kondisi fisik jamaah calon haji tetap stabil," papar Sugita Esadora, selaku petugas Tim Landis Daker Makkah.

Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Fuadah terus dipantau secara intensif oleh tim medis. Kini, dengan bantuan putra dan para petugas, ia bersiap menuntaskan rukun Islam kelimanya dengan semangat yang tetap menyala meski fisik diuji luka.

Artikel terkait

Rekomendasi