BINUS Raih Posisi Kedua Terbaik di Indonesia Versi QS 2026

BINUS Raih Posisi Kedua Terbaik di Indonesia Versi QS 2026

School of Computer Science BINUS University meraih posisi kedua terbaik di Indonesia dalam QS World University Rankings by Subject 2026 untuk bidang Computer Science and Information Systems. Pencapaian ini diraih di tengah upaya institusi mempercepat penyiapan talenta digital nasional.

Pencapaian lembaga pendidikan tersebut terjadi saat adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia berkembang sangat pesat, seperti dilansir dari Medcom. Sebanyak 92 persen pekerja berpengetahuan di tanah air tercatat sudah memanfaatkan AI generatif untuk menunjang aktivitas kerja harian mereka.

Namun, lonjakan adopsi teknologi tersebut berbanding terbalik dengan ketersediaan sumber daya manusia. Indonesia justru diproyeksikan bakal mengalami kekurangan hingga tiga juta talenta digital pada tahun 2030 mendatang akibat adanya kesenjangan kompetensi.

Kondisi pasar kerja saat ini juga diperberat dengan temuan bahwa sekitar 30 persen perusahaan domestik masih kesulitan memperoleh talenta digital berkualitas tinggi. Berdasarkan data Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum, sektor AI, big data, dan keamanan siber menjadi bidang dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja tercepat.

Guna mengatasi persoalan itu, pihak universitas telah menyelaraskan kurikulum modern yang berfokus pada AI-Driven Development dan keamanan siber bersama lebih dari 2.200 mitra industri aktif. Langkah ini diambil agar kompetensi para lulusan sesuai dengan dinamika kebutuhan pasar nyata.

Dean School of Computer Science BINUS University, Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI menegaskan bahwa proses pembelajaran di kampus dirancang agar mahasiswa tidak sekadar memahami teori teknologi semata.

"Kami tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Kami ingin membentuk talenta yang mampu memimpin transformasi digital dan menciptakan inovasi," ujar Prof. Derwin Suhartono.

Kurikulum penunjang tersebut diimplementasikan lewat pengenalan AI secara praktis serta penyediaan akses layanan kecerdasan buatan yang terintegrasi di lingkungan kampus. Kerja sama strategis bersama raksasa teknologi global seperti Microsoft dan Apple juga dikembangkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan standar industri internasional.

Indikator pemeringkatan QS 2026 sendiri diukur melalui beberapa aspek utama yang meliputi Research and Discovery, Global Engagement, serta Employability. Pada aspek keterserapan kerja, universitas mencatat sebanyak 80,1 persen lulusan sarjana mereka sudah langsung bekerja saat wisuda, dengan 36,2 persen di antaranya diterima di perusahaan global.

Prof. Derwin Suhartono menerangkan bahwa kesiapan kerja sejak hari pertama menjadi target utama kurikulum demi menjawab tuntutan efisiensi perusahaan modern.

"Industri tidak punya waktu untuk mendidik ulang lulusan baru. Yang kami pastikan adalah bahwa mahasiswa kami sudah pernah menghadapi kompleksitas itu selama kuliah, sebelum hari pertama mereka bekerja," jelas Prof. Derwin Suhartono.

Saat ini para alumni dari sekolah komputer tersebut telah terserap pada pelbagai profesi mutakhir mulai dari software engineer, AI engineer, data scientist, spesialis keamanan siber, hingga product manager. Sebaran para lulusan tersebut kini menjangkau berbagai korporasi nasional serta multinasional di Singapura, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia.

Artikel terkait

Rekomendasi