Kuba kini kehabisan cadangan minyak akibat blokade ketat yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS). Dampak dari situasi tersebut memicu pemadaman listrik yang meluas hampir di seluruh wilayah negara tersebut.
Kondisi ekonomi Kuba saat ini lumpuh dan infrastrukturnya telah mengalami keruntuhan. Negara tersebut memproduksi kurang dari setengah kebutuhan minyak harian dan secara resmi telah kehabisan seluruh cadangannya, seperti dilansir dari Money.
Di tengah situasi kritis ini, kapal patroli Rusia Neustrahimiy tiba di pelabuhan Havana pada 27 Juli 2024. Kedatangannya merupakan bagian dari armada yang terdiri atas kapal pelatihan Smolniy dan kapal tanker minyak lepas pantai Yelnya, yang dijadwalkan berada di pulau tersebut pada 27-30 Juli.
Akibat krisis bahan bakar, warga Kuba harus menghadapi pemadaman listrik yang meluas. Sedikit bahan bakar yang diproduksi di dalam negeri terpaksa dialihkan hanya untuk rumah sakit serta kebutuhan penting lainnya.
Bagi masyarakat umum, pasokan listrik kini mungkin hanya tersedia selama 30 hingga 90 menit per hari. Selama waktu yang sangat singkat ini, warga bergegas untuk memasak dan menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga.
Jika tidak mendapatkan aliran listrik, warga terpaksa memasak menggunakan arang atau kayu. Mereka juga harus tidur di luar rumah pada malam hari karena kondisi cuaca yang panas.
Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy menyatakan bahwa Kuba telah kehabisan solar dan bahan bakar minyak sepenuhnya. Ia menjabarkan bahwa jumlah gas yang tersedia terbatas, serta sistem energi Kuba berada dalam kondisi kritis karena blokade minyak yang dipimpin AS.
Warga Kuba sendiri telah menderita akibat pemadaman listrik yang meluas selama berbulan-bulan, bahkan beberapa di antaranya terjadi di seluruh negeri. Pekan lalu, ratusan orang turun ke jalan di Havana untuk memblokir jalan dengan sampah yang terbakar dan meneriakkan slogan anti-pemerintah setelah pemadaman listrik memengaruhi sebagian besar wilayah Kuba timur serta ibu kota.
Menurut Vicente de la O Levy, jaringan listrik nasional saat ini beroperasi sepenuhnya menggunakan minyak mentah domestik, gas alam, dan energi terbarukan. Hal ini terjadi setelah pasokan bahan bakar dari kapal tanker Rusia yang tiba pada bulan April telah habis.
Kuba sebenarnya telah memasang 1.300 megawatt tenaga surya selama dua tahun terakhir. Namun, sebagian besar kapasitas tersebut hilang akibat ketidakstabilan jaringan listrik di tengah kekurangan bahan bakar, sehingga mengurangi efisiensi dan output.
Meskipun panel surya telah terpasang, Kuba masih kekurangan komponen baterai. Ketiadaan baterai ini membuat mereka tidak dapat terus memasok listrik ke rumah-rumah warga sepanjang malam.
Vicente de la O Levy mengatakan Kuba terus melakukan negosiasi untuk mengimpor bahan bakar meskipun ada blokade. Namun, kenaikan harga minyak dan transportasi global di tengah perang AS-Israel dengan Iran semakin mempersulit upaya tersebut.
"Kuba terbuka bagi siapa pun yang ingin menjual bahan bakar kepada kami," kata dia.
Meski demikian, hanya sedikit pihak yang bersedia menerima tawaran tersebut. Baik Meksiko maupun Venezuela, yang dulunya merupakan pemasok minyak utama ke Kuba, belum mengirimkan bahan bakar ke pulau itu sejak perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada Januari 2026.
Hingga saat ini, hanya satu kapal tanker minyak besar berbendera Rusia, Anatoly Kolodkin, yang telah mengirimkan minyak mentah ke Kuba sejak Desember tahun lalu.
Kunjungan CIA dan Penawaran Bantuan AS
Direktur Central Intelligence Agency (CIA) John Ratcliffe telah bertemu dengan mitranya dari Kuba di kementerian dalam negeri di Havana. Pertemuan ini terjadi setelah AS memperbarui tawaran bantuan sebesar 100 juta dollar AS untuk meringankan dampak blokade minyaknya.
Sebuah pernyataan dari pihak Kuba menyebutkan bahwa pertemuan tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan dialog. Para pejabat AS juga diberi tahu bahwa Havana bukanlah ancaman bagi keamanan nasional AS.
Perkembangan ini berjalan seiringan ketika pemerintah AS sedang bersiap untuk mengajukan tuntutan terhadap pemimpin Kuba Raúl Castro atas penembakan jatuh dua pesawat kecil 30 tahun lalu. Sementara itu, warga Havana sempat menonton kapal selam bertenaga nuklir Rusia, Kazan, yang mengunjungi Kuba sebagai bagian dari konvoi angkatan laut pada 12 Juni 2024.
Kelangkaan bahan bakar yang diperparah oleh blokade minyak AS telah menyebabkan rumah sakit tidak dapat berfungsi normal. Kondisi ini juga memaksa sekolah serta kantor pemerintah untuk tutup.
Seorang pejabat CIA menyatakan bahwa AS siap terlibat lebih serius dalam isu ekonomi dan keamanan Kuba.
"But hanya jika Kuba melakukan perubahan mendasar," ujar sumber tersebut.
Merespons situasi ini, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan bahwa alih-alih menawarkan bantuan, kondisi dapat dipermudah lebih cepat jika AS mencabut blokadenya. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Kuba Rodríguez mengatakan masih belum jelas apakah tawaran bantuan AS akan berupa uang tunai atau bantuan dalam bentuk barang.
Rodríguez menambahkan bahwa pemerintah Kuba, dalam praktiknya, tidak menolak bantuan asing yang ditawarkan dengan iktikad baik dan dengan tujuan kerja sama yang tulus, baik bilateral maupun multilateral. Menurutnya, cara terbaik yang dapat dilakukan AS untuk membantu Kuba adalah dengan mengurangi langkah-langkah blokade energi, ekonomi, perdagangan, dan keuangan, yang telah meningkat lebih dari sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir.
Sejarah Panjang Krisis Energi di Kuba
Jaringan energi Kuba telah mengalami kegagalan selama bertahun-tahun, sebuah masalah yang sebelumnya tertutupi oleh ketergantungannya pada minyak dari Venezuela. Namun, setelah intervensi militer AS di Venezuela, pemerintahan Trump menegaskan kendali atas industri minyak Venezuela dan memutus pengiriman ke Kuba.
AS kemudian memblokir sebagian besar pengiriman minyak asing lainnya agar tidak masuk ke negara kepulauan tersebut. Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif pada negara-negara yang mengirimkan bahan bakar ke Kuba.
Tujuan dari pembatasan ketat ini adalah untuk memaksa rezim Kuba mundur atau melakukan reformasi substansial. Selain itu, AS menuntut agar Kuba membongkar teknologi mata-mata China dan Rusia yang saat ini beroperasi di dalam wilayahnya.
Para pejabat AS menegaskan bahwa pihaknya tidak melihat jalan keluar di bawah kepemimpinan Kuba saat ini. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa ini adalah ekonomi yang rusak dan tidak berfungsi, serta mustahil untuk mengubahnya.
"I hope things were different. You can't change the direction of the Cuban economy as long as the people currently in power remain in control," ujar dia.
Untuk menjalankan negaranya, Kuba membutuhkan sekitar 100.000 barrel minyak per hari. Sementara itu, Kuba hanya mampu memproduksi maksimal 40.000 barrel minyak mentah setiap harinya dari sumber domestik.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa Venezuela hanyalah langkah pertama, dan mengisyaratkan bahwa Kuba akan menjadi target selanjutnya.
"Taking over Cuba, I mean, whether I free it, take it, I think I could do whatever I want with it, if you want to know the truth. I believe I would have the honor of taking over Cuba. That would be great. That's a great honor," ungkap dia.
Para kritikus menilai blokade Trump telah mengakibatkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam di pulau yang sudah bermasalah secara ekonomi ini. Krisis tersebut telah memaksa sekolah serta universitas untuk tutup, menyebabkan kekacauan dalam sistem perawatan kesehatan, dan menghancurkan industri pariwisata.