BMKG Laporkan Musim Kemarau Landa 17 Persen Wilayah Indonesia

BMKG Laporkan Musim Kemarau Landa 17 Persen Wilayah Indonesia

Sebanyak 17,1 persen wilayah di Indonesia dilaporkan telah memasuki musim kemarau. Data tersebut diperoleh berdasarkan pembaruan terkini per 10 Mei 2026 yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dikutip dari Kompas, BMKG melalui akun Instagram resmi @infobmkg menyatakan bahwa kondisi kemarau ini telah terjadi di 170 Zona Musim (ZOM). Zona musim merupakan wilayah dengan pola hujan yang menunjukkan perbedaan jelas antara musim hujan dan kemarau.

Peta sebaran wilayah yang sedang mengalami musim kemarau per 10 Mei 2026 mencakup sejumlah daerah di berbagai pulau. Wilayah tersebut meliputi sebagian kecil Aceh, sebagian kecil Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, dan sebagian Kepulauan Riau.

Kondisi serupa juga melanda wilayah Jawa dan Bali, yang mencakup sebagian kecil Banten, sebagian Jakarta, sebagian kecil Jawa Barat, sebagian kecil Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur, serta sebagian kecil Bali.

Wilayah Indonesia bagian tengah dan timur turut mencatat wilayah terdampak yang cukup luas. Wilayah ini meliputi sebagian besar Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian besar Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, dan sebagian Maluku.

Kondisi Cuaca dan Fase Transisi Atmosfer

Awal musim kemarau di berbagai wilayah ini ditandai dengan berkurangnya intensitas curah hujan secara signifikan. Selain itu, kondisi cuaca cerah juga mulai mendominasi pada siang hari.

Perubahan cuaca ini mulai memengaruhi tingkat kelembapan udara di beberapa daerah. Penurunan ketersediaan air bersih juga mulai dirasakan pada wilayah-wilayah terdampak tersebut.

BMKG sebelumnya sudah memprakirakan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung secara bertahap. Periode transisi ini berjalan di berbagai wilayah Indonesia mulai bulan April hingga Juni.

Meskipun demikian, potensi hujan dinilai masih dapat terjadi di sejumlah daerah. Hal ini disebabkan oleh aktivitas dinamika atmosfer yang terpantau masih aktif hingga saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi