BMKG Minta Warga Waspadai Cuaca Ekstrem Selama Masa Peralihan Musim

BMKG Minta Warga Waspadai Cuaca Ekstrem Selama Masa Peralihan Musim

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia pada Rabu, 20 Mei 2026. Fenomena atmosfer selama masa peralihan ini memicu kombinasi suhu panas terik dan potensi hujan lebat akibat sirkulasi siklonik serta daerah konvergensi.

BMKG mendeteksi pembentukan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera Barat, Samudra Pasifik utara Papua, Samudra Pasifik utara Papua Nugini, dan Samudra Pasifik timur laut Papua Nugini. Kondisi ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang dari perairan barat Sumatera hingga Laut Arafuru, sehingga meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan.

Hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan mengguyur wilayah Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Maluku Utara dengan status waspada. Sebaliknya, wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur bersiap menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026 bersama 61,4 persen wilayah Indonesia lainnya.

"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," ujar prakirawan BMKG Ina Indah dalam siarannya.

Pihak BMKG terus memantau pergerakan atmosfer yang memicu pertumbuhan awan konvektif ini. Selain hujan lebat di wilayah waspada, hujan petir juga berpotensi melanda Banda Aceh, Tanjung Pinang, dan Bandar Lampung.

"Berkurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif sehingga suhu udara terasa lebih panas," kata prakirawan BMKG Bintari.

Pemanasan intensif pada siang hari tersebut justru memicu pertumbuhan awan hujan pada sore hingga malam hari, terutama di daerah berkelembapan tinggi. Bintari mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca terik yang mencapai 36 derajat Celsius di beberapa provinsi.

"Pemanasan permukaan yang intensif pada siang hari mendukung pertumbuhan awan konvektif. Karena itu, meskipun cuaca terasa panas, masyarakat tetap perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat terjadi pada sore hingga malam," ucap Bintari.

Faktor global seperti El Nino Condition juga terdeteksi dengan nilai SOI -7,4 dan indeks NINO 3.4 sebesar +0,52, yang mengindikasikan penurunan awan hujan di Indonesia timur. Namun, gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin yang aktif bersamaan tetap menjaga potensi hujan di sebagian besar wilayah.

"Walaupun saat ini terdapat indikasi El Nino, aktivitas MJO dan gelombang atmosfer tropis masih cukup aktif sehingga potensi pembentukan hujan tetap tinggi di sejumlah wilayah," tutur Bintari.

Suhu panas dan ancaman cuaca ekstrem ini membuat BMKG mengimbau masyarakat untuk rutin memantau informasi resmi. Langkah mitigasi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang harus disiapkan secara mandiri.

"Cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat diharapkan rutin memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG, terutama sebelum melakukan perjalanan atau aktivitas luar ruangan," ujar Bintari.

Selain dinamika cuaca harian, BMKG mengonfirmasi bahwa 26,3 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau sejak Mei 2026. Langkah antisipasi kekeringan dan kebakaran hutan terus diperkuat di tingkat daerah.

“Dalam menghadapi musim kemarau tahun ini, upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal. Termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah,” kata Sekretaris Utama BMKG Guswanto dalam keterangannya.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BMKG mengoptimalkan teknologi pemantauan terkini untuk memperluas jangkauan informasi bagi masyarakat. Sistem peringatan dini kini dimaksimalkan hingga unit administratif terkecil.

"Informasi mengenai prediksi, sekarang ini sudah sampai level desa. Jadi kalau lihat di aplikasi itu kan sudah bisa per kelurahan atau per desa, kami berusaha agar forecasting itu akurat," beber Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani.

Sementara itu, penurunan intensitas hujan juga dipengaruhi oleh menguatnya angin dari belahan bumi lain. Dinamika angin timuran ini menjadi penanda pergeseran musim di sebagian wilayah selatan Indonesia.

“Intensitas siklon topis diprakirakan menurun dan bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi wilayah Indonesia,” ujar prakirawan BMKG Adelia F pada Senin (11/5/2026) malam.

Perubahan pola cuaca ini berimbas langsung pada berkurangnya pasokan air di beberapa wilayah yang dilintasi angin kering tersebut. Udara kering berpotensi mempercepat datangnya musim kemarau di zona musim terkait.

“Monsun Australia diprakirakan menguat dengan membawa massa udara kering dari Australia yang dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia,” kata Adelia.

Pelemahan kecepatan angin di beberapa titik perairan masih menyisakan uap air untuk memicu hujan lokal intensitas ringan hingga sedang. BMKG mengimbau masyarakat pesisir tetap memantau tinggi gelombang laut.

“Pelemahan angin timuran tetap berpotensi meningkatkan kandungan uap air, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, sehingga peluang hujan masih terbuka,” katanya.

BMKG menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah seperti Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan. Pengawasan ketat juga dilakukan di perairan Sumatera Utara yang berpotensi mengalami gelombang tinggi hingga 2,5 meter.

“Masyarakat perlu miningkatkan kondisi tubuh saat cuaca panas dengan menggunakan pelindung dari sinar matahari dan mencukupi kebutuhan cairan, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan,” pungkas Adelia.

Di Jawa Tengah bagian selatan, Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap mengonfirmasi beberapa kecamatan seperti Maos sudah memasuki musim kemarau dengan curah hujan di bawah 50 milimeter per dasarian. Wilayah Binangun, Kroya, dan Kesugihan berpotensi menyusul jika tren penurunan curah hujan berlanjut hingga akhir Mei 2026.

“Suatu wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau apabila curah hujannya di bawah 50 milimeter per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut,” ujar Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo.

Meskipun curah hujan menurun drastis, potensi terjadinya mendung dan hujan lokal berdurasi singkat tidak sepenuhnya hilang. Karakteristik ini umum dijumpai pada fase awal kemarau.

“Dalam musim kemarau tetap masih ada hujan, hanya saja jumlahnya kurang dari 50 milimeter per dasarian atau kurang dari 150 milimeter per bulan,” katanya.

BMKG memprakirakan kemarau di Jawa Tengah selatan tahun ini akan berjalan dengan sifat curah hujan di bawah normal. Pihak stasiun meteorologi meminta sektor pertanian dan pengelolaan air segera melakukan langkah mitigasi.

“Apabila pada dasarian ketiga nanti curah hujan masih di bawah 50 milimeter per dasarian, maka daerah tersebut dapat dinyatakan mulai memasuki awal musim kemarau sejak dasarian pertama Mei 2026,” jelas Teguh.

Artikel terkait

Rekomendasi