Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara mendirikan yayasan filantropi independen bernama Danantara Indonesia Trust di Jakarta pada Senin, 25 Mei 2026. Yayasan ini difokuskan untuk menyokong program sosial pemerintah beserta lembaga terkait pada sektor kesehatan dan bidang pendidikan.
Pembentukan yayasan sosial ini dilakukan melalui kemitraan strategis dengan Kementerian Kesehatan, Karya Salemba Empat, dan Museum Cagar Budaya demi mendorong pembangunan nasional, sebagaimana dilansir dari Suara. Langkah ini menjadi wujud kontribusi lembaga terhadap pembangunan sosial masyarakat.
Prioritas kerja sama dengan Kementerian Kesehatan diarahkan pada perbaikan kesehatan serta gizi ibu dan anak. Program tersebut mencakup distribusi vaksin heksavalen untuk proteksi jutaan anak dari penyakit menular, penguatan infrastruktur rantai dingin vaksin, dan pemberian suplemen Multiple Micronutrient demi mencegah stunting sekaligus menjaga keselamatan ibu hamil.
Berdasarkan data WHO dan UNICEF tahun 2026, Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena terdapat hampir 960 ribu anak kategori zero-dose yang belum mendapatkan imunisasi, meski cakupan imunisasi dasar lengkap sudah menyentuh 80,2 persen pada 2025. Data BPS 2020 juga merekam Angka Kematian Ibu sebesar 189 per 100 ribu kelahiran hidup, yang menempatkannya sebagai salah satu yang tertinggi di ASEAN.
Tantangan lain terlihat dari prevalensi wasting atau kekurangan gizi akut yang masih bertengger di angka 7,4 persen menurut Survei Status Gizi Indonesia 2024. Melalui yayasan baru ini, BPI Danantara berupaya ikut mengintervensi masalah kesehatan mendasar tersebut secara langsung.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, memaparkan bahwa lembaga yang dipimpinnya tidak sekadar berfokus pada urusan bisnis badan usaha milik negara secara temporer.
"Melalui Danantara Indonesia Trust, kami memperluas misi kami untuk memperkuat sumber daya manusia dan menjawab tantangan sosial, karena kami percaya bahwa penciptaan nilai jangka panjang harus berjalan seiring dengan dampak nyata bagi masyarakat," ujar Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara.
Pada sektor pendidikan, Danantara Indonesia Trust menggandeng Karya Salemba Empat untuk menyalurkan program beasiswa selama tiga tahun kepada sekitar 500 mahasiswa kurang mampu di berbagai daerah. Inisiatif ini melingkupi kegiatan mentoring, pengembangan jiwa kepemimpinan, hingga pembekalan kesiapan karier.
Langkah penanganan di bidang pendidikan dipandang krusial mengingat data Sakernas BPS 2025 menunjukkan sekitar seperlima pemuda Indonesia usia 15-24 tahun masuk dalam kategori Not in Education, Employment or Training. Selain itu, terdapat sekitar 4,1 juta anak dan remaja usia 7-18 tahun yang tercatat putus sekolah.
Sementara itu, kemitraan bersama Museum dan Cagar Budaya direalisasikan lewat pengembangan Perpustakaan Danantara Indonesia Trust di lingkungan Museum Nasional. Proyek ini bertujuan memperluas akses masyarakat luas terhadap literatur dan pengetahuan budaya.
Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust, Nuraini Razak, menegaskan bahwa seluruh poin kemitraan tersebut dirancang untuk merespons kebutuhan mendesak dalam pembangunan nasional.
"Melalui kolaborasi ini, program-program tersebut akan menjadi fondasi DIT sebagai platform yang memobilisasi aksi kolektif, mendorong solusi berskala besar, dan menghadirkan dampak nyata di seluruh Indonesia," kata Nuraini Razak, Ketua Yayasan Danantara Indonesia Trust.