BRIN Petakan Ancaman Penurunan Tanah dan Kenaikan Laut Pantura

BRIN Petakan Ancaman Penurunan Tanah dan Kenaikan Laut Pantura

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan ancaman ganda berupa penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka laut yang mengancam kawasan pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura). Fenomena ini berpotensi meningkatkan risiko genangan permanen di masa mendatang, seperti dilansir dari Detik iNET pada Minggu (31/5/2026).

Beberapa wilayah yang terdampak meliputi Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak. Berdasarkan analisis data altimetri, laju kenaikan muka air laut di kawasan tersebut tercatat mencapai 2,4 milimeter hingga 4,3 milimeter per tahun.

Pemantauan dinamika deformasi wilayah pesisir ini memanfaatkan berbagai teknologi geodesi dan penginderaan jauh. Instrumen yang digunakan meliputi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan terestris, hingga pemodelan geospasial multidata.

"Data pengamatan GNSS yang diperoleh dari Indonesia Continuously Operating Reference Station (InaCORS) juga memperlihatkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura. Data tersebut digunakan sebagai validasi terhadap hasil pengamatan satelit Synthetic Aperture Radar (SAR)," ujar Agung Syetiawan, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) BRIN.

Peningkatan eksploitasi air tanah menjadi salah satu faktor utama yang memicu penurunan permukaan tanah atau subsidence di kawasan pesisir tersebut. Aktivitas ini berdampak langsung pada stabilitas tanah di area terdampak.

"Kebutuhan air bersih masyarakat maupun aktivitas budi daya seperti tambak udang vaname turut meningkatkan tekanan terhadap cadangan air tanah," jelas Agung Syetiawan, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) BRIN.

Melalui pemodelan sederhana bath up model, kawasan seperti Muara Gembong beserta pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi (Jatabek) dilaporkan telah mengalami perluasan area genangan. Agung menilai pembangunan infrastruktur perlindungan pesisir seperti giant sea wall memerlukan kajian geospasial komprehensif untuk menentukan wilayah prioritas secara tepat.

"Save water, save life, air bersih yang kita hemat hari ini adalah nafas kehidupan untuk generasi masa depan," tegas Agung Syetiawan, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) BRIN.

BRIN mengakui adanya tantangan berupa lokasi stasiun pengamatan yang tidak selalu berada di titik penurunan tertinggi. Guna mengatasinya, BRIN bekerja sama dengan Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan pengamatan episodik melalui pemasangan pilar benchmark permanen di titik hotspot secara berkala setiap tahun.

"Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing menjadi sangat penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi yang berbasis data ilmiah," pungkas Rokhis Khomarudin, Kepala PRGI BRIN.

Artikel terkait

Rekomendasi