Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) menyarankan Pemerintah Provinsi Jakarta menggunakan teknik ala Belanda dalam membangun tanggul penahan banjir rob di Muara Angke, Jakarta Utara, guna menyiasati fenomena penurunan muka tanah, Kamis (21/5/2026).
Rencana pembangunan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) oleh pemerintah daerah dinilai efektif karena perencanaannya sudah matang, seperti dilansir dari Megapolitan. Langkah mitigasi ini berfungsi memperkokoh garis pantai Jakarta agar air laut pasang tidak meluap ke pemukiman.
Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Yus Budiyono, menjelaskan bahwa penurunan tanah di pesisir Jakarta memiliki kecepatan berbeda di setiap titik, seperti di Muara Angke yang mencapai 20 sentimeter per tahun.
"Saya kira kalau yang namanya NCICD atau kegiatan yang perencanaannya sudah lama, menurut saya sudah baik juga," ucap Yus Budiyono, Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, BRIN.
Yus menambahkan, jika tanggul menggunakan material beton keras, struktur tersebut berisiko retak dan rusak saat tanah ambles tidak merata. Kerusakan tanggul otomatis akan membuat fungsinya dalam menghalau air laut menjadi tidak optimal.
"Building with Nature adalah istilah dari Belanda, sedangkan Nature-based Solution adalah istilah dari Uni Eropa yang kemudian digunakan secara internasional oleh lembaga seperti ADB dan World Bank," ungkap Yus.
Pendekatan alami ini menggunakan material fleksibel seperti pasir yang dapat menyesuaikan diri dengan penurunan tanah. Metode tanggul pasir tersebut sudah terbukti berhasil meredam banjir rob di kawasan pantai utara Belanda.
"Seperti di pantai utara Belanda, tanggul besarnya dibuat fleksibel. Jadi, jika tanggul tersebut mengalami retakan, pasirnya tetap akan mengisi celah tersebut dan pemerintah hanya perlu menambahkan pasir di atasnya," tutur Yus.
Kendati demikian, tanggul pasir membutuhkan lahan yang lebih luas dibandingkan tanggul beton. Tantangan lainnya adalah sistem penganggaran di Indonesia yang belum mendukung konsep ini karena pengurangan volume pasir akibat larut ke laut bisa memicu masalah hukum.
"Contohnya, jika pemerintah membangun tanggul menggunakan 100 ton atau 100 meter kubik pasir, lalu saat diperiksa jumlahnya berkurang karena sebagian pasirnya turun atau larut ke laut, hal itu akan menjadi masalah administratif atau hukum," jelas Yus.
Selain tanggul pasir, pemanfaatan hutan mangrove di Muara Angke dapat menjadi opsi pelengkap untuk memperkuat pertahanan pantai. Namun, tanaman mangrove sangat sensitif pada pasokan sedimen dan sulit tumbuh di area padat penduduk akibat keterbatasan lahan.
"Di daerah padat penduduk, masalah hunian liar (squatting) juga terjadi, sehingga permasalahannya menjadi cukup rumit," ungkap Yus.
Sebagai langkah adaptasi, warga setempat telah mendirikan rumah panggung dan apung untuk menghadapi rob. Yus merekomendasikan pemerintah mengutamakan pendekatan sosial dan berdiskusi dengan para ahli untuk menentukan prioritas pembangunan teknis.
"Mungkin dengan begitu warga akan paham bahwa perubahan yang dibuat sekarang bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan," ungkap Yus.
Sementara itu, pihak Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi DKI Jakarta mengonfirmasi bahwa proyek NCICD Muara Angke masih dalam tahap perancangan terpadu antardinas. Pembangunan tahun ini masih difokuskan di Pantai Mutiara, Muara Baru, dan Kali Blencong.
Ketua Subkelompok Pengendalian Rob dan Pengamanan Pesisir Pantai DSDA Jakarta, Achmad Daeroby, mengimbau masyarakat untuk sabar serta tidak membuang sampah sembarangan demi menjaga kelancaran saluran air.
"Proyek tanggul mitigasi sudah selesai 100 persen," kata Achmad Daeroby, Ketua Subkelompok Pengendalian Rob dan Pengamanan Pesisir Pantai Bidang Pengendalian Rob dan Pengamanan Pesisir Pantai Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta.
Tanggul darurat sepanjang 1,1 kilometer dan lebar 5 hingga 6 meter tersebut kini berfungsi sebagai jalan warga. Infrastruktur sementara ini diklaim cukup efektif membendung limpasan air laut.
"Tanggul ini dapat berfungsi efektif dengan ketinggian banjir rob maksimal pada elevasi +2,5 meter di Peil Priok," sambung Achmad.