BRIN Soroti Hambatan Pemilihan Pemimpin Baru dalam Partai Politik

BRIN Soroti Hambatan Pemilihan Pemimpin Baru dalam Partai Politik

Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menyoroti kemandekan regenerasi meritokratis akibat partai politik di Indonesia yang masih bergantung pada tokoh sentral dalam seminar bertajuk ‘Menuju Partai Politik Modern’ di Jakarta pada Kamis (28/5/2026).

Ketergantungan terhadap figur kuat ini dinilai membuat nasib partai politik menjadi goyah saat tokoh utama tersebut melemah. Masalah ini diperparah oleh pelembagaan partai politik nasional yang masih berada dalam kategori sedang dengan skor 74,16 berdasarkan Indeks Pelembagaan Partai Politik (IPPP) 2024.

"Banyak partai masih sangat bergantung pada tokoh sentral. Ketika figur kuat melemah, partai ikut goyah. Regenerasi kepemimpinan sering kali tidak berjalan secara meritokratis. Kaderisasi belum menjadi budaya organisasi, melainkan sekadar aktivitas administratif menjelang pemilu," kata Peneliti Senior Bidang Politik BRIN Lili Romli.

Lili Romli memaparkan bahwa permasalahan lain yang dihadapi organisasi politik saat ini adalah pola hubungan dengan masyarakat yang cenderung berjalan transaksional serta bersifat musiman menjelang kontestasi pemilu demi kepentingan elektoral.

"Di sisi lain, hubungan partai dengan masyarakat cenderung bersifat transaksional dan musiman. Partai hadir menjelang pemilu, tetapi kurang hadir dalam kehidupan sosial warga sehari-hari. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap partai politik terus mengalami tantangan," ujar Lili Romli.

Sistem kepartaian yang kuat menjadi elemen mutlak karena partai politik idealnya berfungsi sebagai wadah utama untuk melahirkan pemimpin baru, menjalankan pendidikan politik, serta menjadi penyalur aspirasi warga.

"Melalui partailah, kader pemimpin lahir, aspirasi rakyat disalurkan, pendidikan politik dijalankan, dan pemerintahan dibentuk. Tanpa partai politik yang kuat dan terlembaga, demokrasi hanya akan menjadi prosedur lima tahunan yang kehilangan substansi," tutur Lili Romli.

Lili Romli menambahkan, sejumlah penelitian menunjukkan sistem kepartaian pasca-Reformasi belum sepenuhnya terlembaga secara kuat karena masih menghadapi banyak persoalan.

"Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem kepartaian Indonesia pasca-Reformasi belum sepenuhnya terlembaga secara kuat. Kondisi pelembagaan partai politik berdasarkan IPPP 2024 masuk dalam kategori sedang (skor) 74,16," jelas Lili Romli.

Tantangan partai ke depan dinilai krusial mengingat data pemilih saat ini menunjukkan sebesar 55 persen berada di bawah usia 40 tahun. Kompasiana melansir bahwa generasi muda sekarang memiliki banyak jalur alternatif gerakan eksternal seperti komunitas, LSM, dan startup sosial yang lebih dinamis.

Langkah kader muda potensial sering kali terhenti akibat budaya internal partai politik yang kaku dengan logika senioritas serta kebutuhan modal finansial yang besar. Di sisi lain, lintascakrawalanews.com mengabarkan bahwa kaum minoritas dan pemuda membutuhkan ruang perjuangan politik yang mandiri demi menegakkan keadilan sosial dan kebebasan beribadah sesuai Pasal 27 ayat (1) UUD 1945.

Artikel terkait

Rekomendasi