Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz sesegera mungkin dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Beijing pada Rabu, 6 Mei 2026. Pertemuan ini menandai kunjungan pertama Araghchi ke Cina sejak pecahnya perang Iran guna membahas deeskalasi ketegangan di jalur perairan strategis tersebut.
Beijing berupaya memediasi konflik yang telah melumpuhkan jalur transportasi minyak dunia akibat blokade yang dilakukan oleh Iran maupun Amerika Serikat. Wang Yi menegaskan bahwa pencapaian gencatan senjata yang langgeng merupakan prioritas mendesak bagi komunitas internasional saat ini.
"China believes that achieving a comprehensive ceasefire is an urgent priority, while reopening hostilities would be even more undesirable," kata Wang Yi, sesuai laporan media pemerintah Cina.
Diplomat tertinggi Cina tersebut menambahkan bahwa dunia internasional memiliki kepentingan yang sama dalam memulihkan navigasi yang normal dan aman di Selat Hormuz. Hal ini berkaitan erat dengan pasokan energi Cina, mengingat Beijing mengimpor sekitar 1,38 juta barel minyak mentah per hari dari Iran pada tahun 2025.
"On the issue of the Strait, the international community shares a common concern over restoring normal and secure navigation through the Strait, and China hopes relevant parties will respond as soon as possible to the strong call from the international community," ujar Wang Yi.
Wang Yi juga menyatakan apresiasinya terhadap sikap Iran yang berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Di sisi lain, Abbas Araghchi menekankan pentingnya dukungan diplomatik Cina bagi negaranya di tingkat internasional.
"We believe that a comprehensive ceasefire brooks no delay, a resumption of hostilities is inadvisable, and persisting with negotiations is particularly important," tutur Wang Yi kepada Araghchi sebagaimana ditayangkan Phoenix TV.
Pertemuan ini berlangsung satu minggu sebelum jadwal konferensi tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei mendatang. Marco Rubio, Sekretaris Negara AS, sebelumnya telah meminta Cina untuk menekan Iran agar melonggarkan blokade di Selat Hormuz.
Meskipun terdapat tekanan dari Washington, Beijing tetap mengkritik tindakan militer AS dan Israel terhadap Iran yang dianggap tidak sah. Analis dari Universitas Tsinghua, Jodie Wen, menilai Cina akan berusaha keras membujuk Iran kembali ke meja perundingan agar Selat Hormuz dapat terbuka seperti semula.