Cuaca buruk memicu gangguan sistem transmisi kelistrikan yang mengakibatkan pemadaman listrik total pada 176 gardu induk di berbagai wilayah Sumatra pada Jumat, 22 Mei 2026 malam. Akibatnya, aliran listrik dari pembangkit menuju pemukiman warga sempat terputus secara meluas, sebagaimana dilansir dari Suara.
Gangguan pada sistem transmisi tersebut membebani pembangkit secara signifikan. Penurunan frekuensi yang terjadi kemudian menciptakan dampak susulan pada subsistem kelistrikan lainnya di wilayah Sumatra.
"Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatra, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah," ujar Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.
Proses pemulihan operasional pasokan listrik dilakukan secara bertahap oleh petugas di lapangan. PLN mengoptimalkan pembangkit berbasis hidro dan gas yang memiliki durasi respons cepat untuk mengawali pemulihan sistem jaringan kelistrikan tersebut.
"Proses penyalaan pembangkit dilakukan secara sistematis dan bertahap dengan tetap mengutamakan keamanan sistem. Pembangkit berbasis hidro dan gas dapat langsung membantu menyuplai sistem sebagai fast response untuk mempercepat recovery awal," kata Darmawan.
Meskipun demikian, pasokan listrik dari pembangkit bantuan tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan beban listrik masyarakat secara instan. Pemulihan pada jenis pembangkit termal membutuhkan waktu penyalaan yang jauh lebih lama.
"Sementara pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama, antara 15 hingga 20 jam mulai dari start-up, sinkron dan beroperasi penuh," sambungnya.
Hingga Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, PLN mencatat pasokan listrik sebesar 3.192 MW telah berhasil disalurkan kembali dari total 5.334 MW daya yang terdampak. Pemulihan ini juga berhasil mengoperasikan kembali 157 gardu induk sehingga pasokan daya untuk 8.351.670 pelanggan kini telah kembali normal.