Pemerintah menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home setiap Jumat guna menekan konsumsi energi, yang kini mulai mengubah pola hidup pegawai swasta dan aparatur sipil negara di Jakarta. Dilansir dari Megapolitan pada Senin (4/5/2026), kebijakan ini memungkinkan pekerja menghindari mobilitas kantor namun menghadirkan tantangan disiplin serta pergeseran biaya operasional harian.
Natasya, seorang pegawai yang mengikuti kegiatan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, merasakan perubahan ritme kerja yang signifikan saat menjalankan tugas dari kediamannya. Meskipun tidak perlu bersiap secara fisik untuk ke kantor, ia mengaku harus tetap siaga mengelola komunikasi melalui platform digital sepanjang hari.
"Bebersih aja sih kayak cuci muka, sikat gigi, tapi enggak mandi dan ganti baju. Terus aku absensi mobile di handpone, baru buka laptop ngerjain tugas rutin kayak penjadwalan, dan lainnya," tutur Tasya ketika dihubungi Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Pengalaman bekerja sendirian di kamar kos menimbulkan hambatan dalam berinteraksi, terutama bagi profesi yang mengandalkan koordinasi langsung. Tasya menilai komunikasi melalui pesan singkat atau telepon kurang efektif dibandingkan diskusi tatap muka saat membahas urusan pekerjaan.
"Terus aku juga tipe yang sukanya ngobrol langsung kalau bahas kerjaan, jadi kayak komunikasinya agak terhambat aja kalau bahasnya lewat chat atau telfon," ujar Tasya.
Senada dengan itu, Kiky yang bekerja di bidang humas menyatakan bahwa fleksibilitas WFH menuntut kedisiplinan ekstra karena suasana rumah yang cenderung terlalu santai. Ia harus pandai mengatur ritme agar tetap fokus memenuhi tanggung jawab penugasan yang masuk sewaktu-waktu.
"Tantangan terbesarnya justru dari diri sendiri. Suasana rumah yang nyaman kadang bikin kita harus ekstra disiplin supaya tetap fokus. Belum lagi kalau ada distraksi dari sekitar," ungkap Kiky ketika dihubungi, Jumat.
Sementara itu, Sabila Malia, seorang karyawan swasta, menyoroti kendala pengasuhan anak yang sering kali mengganggu konsentrasi saat bekerja di rumah. Ia harus mengatur waktu tidur sang anak agar dapat menyelesaikan tugas dengan tenang, meski tetap berharap frekuensi WFH bisa ditambah.
"Tantangan WFH itu, karena ada anak. Dia kepo kadang itu laptop kok nyala terus, iseng mau mencet-mencet," kata Sabila ketika diwawancarai Kompas.com, Senin.
Kebutuhan interaksi fisik tetap dianggap penting meski bekerja dari rumah memberikan keuntungan finansial dari sisi transportasi. Sabila mengusulkan kombinasi kerja yang seimbang antara di rumah dan di kantor untuk menjaga efektivitas performa.
"Mungkin dalam seminggu bisa tiga kali WFH dan dua kali WFO, karena kalau kerja full WFH juga sebenarnya kurang efektif," jelas Sabila.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, memandang fenomena ini sebagai pergeseran pola hidup industrial ke arah digital yang memisahkan pekerjaan dari ruang fisik kantor. Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan ini bisa memperlebar ketimpangan sosial bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses teknologi.
"WFH itu mencerminkan pergeseran dari pola hidup industrial ke pola hidup berbasis digital. Jadi, masyarakat urban itu tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang fisik atau kantor, melainkan pada jaringan atau digital platform," ucap Rakhmat ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Rakhmat juga menekankan bahwa penghematan energi yang terjadi di sektor transportasi sebenarnya hanya berpindah ke level rumah tangga. Tanpa efisiensi sistemik di rumah, kebijakan ini dianggap hanya sebagai solusi parsial yang bersifat adaptif.
"Energi yang sebelumnya terpusat di kantor berpindah ke rumah tangga. Saya melihat bahwa hal ini mencerminkan fenomena energy shifting, bukan pengurangan absolut, terutama jika rumah tangga tidak efisien dalam penggunaan energi," tegas dia.
Dari perspektif finansial, perencana keuangan Rista Zwestika mengingatkan potensi lonjakan pengeluaran rumah tangga akibat kenaikan biaya listrik, internet, dan konsumsi pangan harian. Pekerja disarankan untuk tetap memiliki anggaran kerja yang terpisah agar kondisi keuangan tidak terganggu.
"Listrik naik, internet, bahkan konsumsi harian juga meningkat. Tapi menariknya, secara total, WFH tetap bisa lebih hemat kalau kita disiplin," ujar Rista ketika dihubungi Kompas.com, Senin.
Penggunaan perangkat elektronik secara sadar dan pemanfaatan cahaya alami menjadi kunci agar biaya hidup tidak membengkak saat bekerja dari rumah. Rista mengimbau para pekerja untuk mengontrol kebiasaan membeli makanan secara daring yang sering kali meningkat selama masa WFH.
"WFH bikin penggunaan listrik naik, terutama AC, laptop, dan perangkat lainnya," sambung Rista.