Ahli Peringatkan Dampak Psikologis Penyebaran Konten Korban Kecelakaan

Ahli Peringatkan Dampak Psikologis Penyebaran Konten Korban Kecelakaan

Ahli Psikologi Universitas Indonesia memperingatkan dampak negatif penyebaran video dan foto korban kecelakaan kereta antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Berbagai konten visual yang mengeksploitasi kondisi korban dilaporkan beredar luas di platform media sosial pascakejadian tersebut.

Penyebaran materi visual tersebut dinilai melanggar etika dan privasi serta berisiko menimbulkan trauma mendalam bagi pihak keluarga. Fenomena ini menjadi sorotan karena banyaknya warga yang mengunggah konten tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis orang-orang yang berkaitan langsung dengan peristiwa pilu tersebut, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.

Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, menegaskan bahwa masyarakat seharusnya menghindari penyebaran rekaman yang mengeksploitasi korban. Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan kurangnya rasa empati terhadap keluarga yang sedang dalam masa sulit.

"Menurut saya, hal tersebut harus dihindari. Banyak masyarakat yang memang tidak paham, karena tidak menyadari bahwa keluarga dan kerabat korban tengah mengalami masa yang tidak nyaman, bahkan trauma," kata Rose Mini, Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia.

Kemunculan visual kecelakaan secara berulang di linimasa media sosial dianggap dapat memperburuk kondisi mental keluarga yang ditinggalkan. Rose menyebutkan bahwa menyebarkan gambar tragis tersebut sama saja dengan menciptakan korban baru di tengah situasi berduka.

"Seseorang seharusnya berempati terhadap lingkungannya, terhadap orang-orang yang terkait dengan korban. Namun, kalau kemudian dijadikan ajang untuk memamerkan bahwa seseorang berhasil mendapatkan video atau foto terbaru, ini menunjukkan tidak adanya empati," imbuh Rose Mini, Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya tindakan nyata untuk menolong korban di lokasi kejadian daripada sekadar merekam untuk tujuan viralitas. Selain masalah psikologis, kecepatan penyebaran informasi tanpa verifikasi ini memicu kekhawatiran munculnya hoaks yang dapat memperkeruh situasi di lapangan.

Artikel terkait

Rekomendasi