Aksi siswi SMAN 1 Pontianak yang menyampaikan protes langsung dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI pada Selasa (12/5/2026) memicu diskusi mengenai kondisi psikologis remaja. Ketidakadilan dalam penilaian dinilai dapat memberikan dampak emosional yang signifikan bagi perkembangan mental anak di ruang publik.
Dilansir dari Lifestyle, situasi tersebut menjadi perhatian karena menyangkut cara remaja memproses usaha dan perjuangan yang tidak dihargai oleh orang dewasa. Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menyebutkan bahwa penilaian sosial memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas emosional di usia remaja.
Vera menegaskan bahwa ketika seorang anak merasa usahanya tidak dinilai secara adil, hal tersebut memicu gejolak perasaan yang kompleks. Penolakan atau ketidakadilan dari lingkungan otoritas dapat melukai harga diri mereka secara mendalam.
"Anak bisa merasa malu, sedih, marah, kecewa, bahkan merasa tidak berharga," ujarnya Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog Anak dan Remaja.
Rasa diperlakukan tidak adil sering kali meninggalkan bekas yang lebih kuat dibandingkan sebuah kegagalan teknis. Jika kegagalan terjadi karena kekurangan kemampuan, remaja cenderung lebih mudah menerima dan belajar untuk memperbaiki diri di masa depan.
Namun, situasi akan berbeda jika rasa kecewa tersebut bersumber dari sistem yang dianggap tidak fair. Kondisi ini berisiko menghilangkan kepercayaan anak terhadap figur otoritas dan lingkungan sekitarnya secara permanen.
"Rasa diperlakukan tidak adil menyentuh harga diri anak dan membuat mereka merasa tidak berdaya," jelas Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog Anak dan Remaja.
Penting bagi orang dewasa untuk memberikan validasi terhadap suara dan proses yang telah dilalui oleh anak. Sikap mengabaikan atau membungkam pendapat anak dapat membentuk kepribadian yang takut berekspresi dan terbiasa memendam emosi negatif.
Budaya komunikasi yang sehat perlu dibangun agar kritik atau keberatan dapat disampaikan dengan cara yang tepat. Melalui respons yang tenang dan terbuka, orang dewasa dapat mengajarkan remaja untuk berpendapat tanpa harus bersikap agresif namun tetap menghormati pihak lain.