Sejumlah pengamat dan aktivis mendesak Pemerintah Indonesia untuk keluar dari lembaga Board of Peace (BoP) bentukan Donald Trump setelah militer Israel menangkap lima warga negara Indonesia (WNI) yang membawa misi kemanusiaan di Gaza, Palestina.
Aksi penangkapan para relawan Global Sumud Flotilla tersebut memicu gelombang protes di dalam negeri, sebagaimana dilansir dari Nasional. Israel sendiri tercatat resmi bergabung menjadi anggota organisasi kedamaian tersebut sejak 11 Februari 2026.
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi mempertanyakan komitmen lembaga tersebut dalam mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, tindakan represif yang dilakukan oleh salah satu anggota lembaga bertolak belakang dengan misi awal pembentukan organisasi.
"Kalau misi damai (dari Global Sumud Flotilla) kemudian dilawan atau direspons dengan penangkapan dan kekerasan, saya kira ini harus jadi pertimbangan (pembahasan) dalam Board of Peace," ucap Yon dalam pesan singkat, Selasa (19/5/2026).
Yon menambahkan bahwa lembaga tersebut awalnya diproyeksikan sebagai representasi perdamaian oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah tegas berupa opsi keluar dari keanggotaan disarankan jika protes resmi Indonesia tidak mendapat tanggapan serius.
"Tetapi kalau yang terjadi kita lihat kebijakan dan juga aksi yang dilakukan oleh Israel justru sangat bertentangan dengan nilai perdamaian," ucapnya.
Desakan senada juga disuarakan oleh figur publik sekaligus pejuang kemanusiaan, Wanda Hamidah, yang pernah terlibat dalam gerakan relawan tersebut. Ia menyerukan mobilisasi massa untuk menekan pemerintah agar segera memutuskan hubungan dengan organisasi bentukan Trump.
"Terutama untuk menekan negara kita menekan Presiden kita untuk segera keluar dari Board of Genocide (BOP) yang diadakan oleh Trump," kata Wanda dalam konferensi pers, Senin (18/5/2026) malam.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Command Center Istanbul melalui media sosial Global Peace Convoy Indonesia, influencer Chiki Fawzi mengidentifikasi lima WNI yang diintersep oleh militer Israel pada Senin (18/5/2026). Korban meliputi Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat di kapal Josef, serta Thoudy Badai, Rahendro Herubowo, dan Andre Prasetyo Nugroho di kapal Ozgurluk.
Merespons situasi tersebut, diplomasi formal segera diambil oleh otoritas berwenang di Jakarta guna memastikan keselamatan para relawan. Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi terdapat total sepuluh kapal kemanusiaan internasional yang dikepung dan ditahan.
“Kementerian Luar Negeri mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan,” bunyi pernyataan Yvonne Mewengkang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI.