Telepon dari nomor tak dikenal yang berdering di tengah malam, bayangan asing yang membuntuti di gang sempit, hingga sentuhan-sentuhan tak diinginkan dari aparat di tengah kerumunan aksi massa bukan lagi sekadar mimpi buruk bagi Dian Septi Trisnanti. Baginya, itulah realitas pahit yang harus ditelan selama lebih dari dua dekade mengabdikan hidup dalam gerakan sosial. Di balik wajah aktivisme perempuan pembela hak asasi manusia (HAM) di Indonesia, tersimpan kerentanan berlapis yang kerap luput dari mata publik, mulai dari intimidasi fisik, pelecehan verbal, hingga serangan di jagat maya.
Sasaran di Ruang Publik dan Digital
Dian yang kini menginjak usia 42 tahun memahami betul bahwa menjadi penggerak perubahan sebagai perempuan berarti menempatkan diri dalam bidikan yang berbeda. Risiko yang ia hadapi bukan sekadar risiko politik secara umum, melainkan serangan yang secara spesifik menyasar identitas gendernya. Dalam pengalamannya, tubuh perempuan sering kali dijadikan alat tawar atau instrumen untuk memberikan tekanan mental yang luar biasa agar mereka berhenti bersuara.
Dian mengenang bagaimana ia harus menghadapi pelecehan verbal dari pejabat hingga ajakan-ajakan tidak pantas yang merendahkan martabatnya sebagai pejuang hak masyarakat. Tekanan ini tidak hanya berhenti di dunia nyata, karena ruang digital kini menjadi medan pertempuran baru yang tak kalah brutal melalui aksi doxing dan peretasan akun pribadi.
"Semua pengalaman itu menunjukkan bahwa, aktivis perempuan sangat rentan dan tubuh kami menjadi sasaran untuk ditundukkan, biar menyerah, berhenti, bila perlu hidup kami hancur supaya tidak mengganggu kekuasaan dan sistem yang selama ini represif," ujar Dian, Aktivis Perempuan.
Menuntut Kehadiran Negara
Kondisi yang serba tidak aman ini memicu desakan kuat agar negara tidak lagi menjadi penonton pasif. Dian menilai bahwa absennya perlindungan yang tegas bagi pembela HAM perempuan adalah sebuah pembiaran yang berbahaya. Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang berjuang demi hak-hak masyarakat tidak dibiarkan bertarung sendirian melawan intimidasi struktural.
Harapan akan adanya payung hukum dan kebijakan yang nyata terus disuarakan, mengingat perjuangan di lapangan sering kali berbenturan langsung dengan kepentingan penguasa yang enggan terusik kenyamanannya.
"Harapannya, ada perlindungan dari negara. Negara berhenti berperan jadi pengabdi kekuasaan," ujar Dian, Aktivis Perempuan.
Tanpa adanya jaminan keamanan, kerja-kerja advokasi bagi kelompok rentan akan semakin sulit dilakukan. Dian menekankan bahwa perubahan sistemik tidak akan pernah diberikan secara cuma-cuma oleh mereka yang berada di lingkaran status quo, melainkan harus dipaksa melalui gerakan kolektif yang solid.
"Tapi itu akan terjadi bila didesak atau dipaksa. Tidak ada satupun aktor kekuasaan yang melepas privilege, kuasanya, kenyamanannya, posisi status quo nya secara sukarela. Sementara, perubahan sistem membutuhkan pembongkaran struktural kekuasaan. Siapa yang memaksa? Ya kita, pergerakan secara kolektif, meluas dan bersama- sama," ujar Dian, Aktivis Perempuan.
Saling Jaga di Garis Depan
Lantas, apa yang membuat seorang aktivis seperti Dian tetap mampu berdiri tegak setelah dihantam badai teror selama puluhan tahun? Jawabannya terletak pada solidaritas. Di tengah ancaman yang datang silih berganti, keberadaan komunitas dan sesama kawan seperjuangan menjadi benteng pertahanan terakhir yang memberikan kekuatan moral dan perlindungan fisik secara mandiri.
Dian bercermin pada semangat para buruh perempuan di akar rumput yang setiap harinya bergulat dengan tekanan ekonomi dan sosial, namun tetap memiliki keberanian luar biasa untuk bertahan.
"Dari kawan-kawan akar rumput dan kawan seperjuangan, saya belajar bertahan, bangkit lagi saat jatuh dan terus maju bersama rasa takut yang tetap hadir," ujar Dian, Aktivis Perempuan.
Bagi para pembela HAM ini, rasa takut bukanlah sebuah akhir, melainkan kawan perjalanan yang harus dikelola. Mereka memilih untuk terus merawat kehidupan dan memperjuangkan hak-hak yang diyakini benar, meski harus berjalan di bawah bayang-bayang ancaman yang tak pernah benar-benar hilang.
"Mereka pemberani, menghadapi ragam ketakutan setiap hari, sambil terus merawat kehidupan," ujar Dian, Aktivis Perempuan.