"Biasanya kejebak macet itu depan Infinia Park (di Jalan Dr. Sahardjo) dan depan Gedung Pola Matraman. Sampai kantor jam 08.00 WIB, kadang lewat lima menit," tutur Sabila, Karyawan Swasta.
Tantangan Fokus dan Distraksi Buah Hati
Di balik kemudahan tanpa mobilitas, bekerja dari rumah membawa tantangan tersendiri bagi seorang ibu. Sabila harus piawai membelah konsentrasi antara tanggung jawab profesional dan peran domestik. Sering kali, fokusnya terpecah ketika sang anak mulai mendekati area kerjanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi."Tantangan WFH itu, ya, karena ada anak. Dia kepo kadang itu laptop kok nyala terus iseng mau mencet-mencet. Jadi, kayak kurang enak aja sih lingkungan buat kerja kurang fokus," sambung Sabila, Karyawan Swasta.
Di sela-sela tumpukan tugas, ia tetap menyisipkan waktu untuk menidurkan anaknya. Momen ketika sang anak terlelap menjadi waktu emas bagi Sabila untuk mengejar tenggat pekerjaan dengan tingkat fokus maksimal. Meskipun melelahkan, ia mengaku jauh lebih tenang bekerja di dekat buah hatinya ketimbang harus berada jauh di kantor. Sisi finansial juga menjadi faktor penguat kenyamanan ini, di mana ia bisa memangkas pengeluaran bensin sekitar Rp 25.000 untuk setiap dua hari perjalanan."Dikasih WFH juga Alhamdulillah, biar enggak boros bensin sama bisa ngurus bocil," kata Sabila, Karyawan Swasta.
Walau pengeluaran paket internet sedikit membengkak karena ia mengandalkan hotspot ponsel tanpa WiFi rumah, Sabila merasa total biaya yang dikeluarkan masih jauh lebih hemat. Baginya, WFH Jumat bukan sekadar soal uang, melainkan kesehatan mental untuk melepas kepenatan setelah empat hari bekerja di kantor."Sebenarnya dengan adanya WFH ini bikin kita enggak terlalu mumet kali, ya, kalau full lima hari di kantor dan bisa spare budget juga kan ongkosnya," kata Sabila, Karyawan Swasta.
Dengan ritme kerja yang sudah ia kuasai, stres akibat beban kerja pun terminimalisasi. Sabila bahkan memendam harapan agar kebijakan ini diperluas menjadi dua kali seminggu demi menciptakan keseimbangan suasana kerja yang lebih dinamis.Perspektif Sosiologis: Beban Ganda dan Ketimpangan
Fenomena yang dialami Sabila mendapat sorotan dari kacamata sosiologi. Rakhmat Hidayat dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melihat bahwa WFH kerap kali mengaburkan garis batas antara kehidupan kantor dan domestik, yang sering kali berdampak lebih berat pada perempuan."Dampaknya pertama, perempuan sering mengalami beban ganda di mana harus mengurus pekerjaan kantor dan domestik," kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Rakhmat menegaskan bahwa situasi ini menunjukkan WFH tidak bersifat netral secara gender karena dipengaruhi oleh struktur sosial yang masih menempatkan peran domestik pada perempuan. Selain isu gender, efektivitas WFH juga dinilai sangat bergantung pada kelas sosial. Pekerja menengah ke atas mungkin memiliki fasilitas penunjang yang mumpuni, namun pekerja menengah ke bawah sering kali harus bergelut dengan ruang sempit dan koneksi internet yang terbatas, sehingga berpotensi memperlebar jurang ketimpangan sosial. Lebih jauh, ia memandang WFH sebagai pergeseran gaya hidup urban dari pola industrial menuju pola digital yang berbasis hasil, bukan lagi pengawasan fisik langsung."Namun di sisi lain, muncul bentuk kontrol baru melalui teknologi atau digital surveillance, sehingga relasi kerja itu menjadi lebih tersembunyi tetapi tetap kuat," tutur Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Mengenai tujuan awal pemerintah untuk penghematan energi, Rakhmat menilai hasilnya belum merata karena hanya mendistribusikan ulang penggunaan energi dari gedung perkantoran ke rumah tangga."Energi yang sebelumnya terpusat di kantor berpindah ke rumah tangga. Saya melihat bahwa hal ini mencerminkan fenomena energy shifting, bukan pengurangan absolut, terutama jika rumah tangga tidak efisien dalam penggunaan energi," tegas Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Menakar Efektivitas Melalui Data
Senada dengan Rakhmat, pengamat ketenagakerjaan dari UGM, Tadjudin Noor Effendi, meragukan kebijakan WFH satu hari dalam seminggu akan membawa dampak signifikan pada penghematan biaya atau energi secara makro."Efisiensinya bagaimana? Saya pikir tidak begitu berdampak pada penurunan biaya yang dikeluarkan oleh mereka," kata Tadjudin, Pengamat Ketenagakerjaan UGM.
"Kalau dibilang efisien, ya harus jelas berapa dana yang bisa dihemat dengan mereka bekerja dari rumah hari Jumat. Dan juga harus dihitung biaya listrik di rumah yang naik," tegas Tadjudin, Pengamat Ketenagakerjaan UGM."Disuruh naik kendaraan umum, itu mungkin bisa lebih terasa penghematannya," tutur Tadjudin, Pengamat Ketenagakerjaan UGM.