Direktorat Jenderal Pemasyarakatan memperketat pengawasan dengan menginstruksikan razia rutin sebanyak dua kali setiap bulan guna memutus rantai peredaran narkoba dan telepon seluler ilegal di lingkungan Lapas serta Rutan pada Kamis (7/5/2026).
Langkah preventif ini mencakup penggeledahan fisik dan pemeriksaan urine bagi warga binaan maupun petugas yang terindikasi melakukan pelanggaran. Pelaksanaan pengawasan ini dilaporkan secara berkala kepada pusat setiap awal bulan sebagaimana dilansir dari Nasional.
“Kita lakukan razia dan plus cek urine, baik itu kepada warga binaan yang indikasi, termasuk pegawai yang indikasi kita akan check urine. Satu bulan dua kali kita perintahkan nanti minggu pertama dia (Lapas-Rutan) mengirimkan datanya kepada kami di sini,” kata Dirjen Pas Mashudi.
Guna menekan penggunaan ponsel ilegal, Dirjen Pas mendorong optimalisasi fasilitas Warung Telekomunikasi bagi penghuni tahanan. Penyediaan sarana komunikasi resmi ini dimaksudkan agar warga binaan tetap bisa berhubungan dengan keluarga namun tetap dalam pengawasan otoritas terkait.
“Tapi sesuai dengan SOP. Di situ bisa merekam, pilih tempat yang nyaman terhadap warga binaan, harga yang murah, dan bisa kita evaluasi dari dalam selaku operator. Ini SOP, silakan mau 100, 200, silakan,” ujar Mashudi.
Berdasarkan data internal, tercatat adanya puluhan kasus pelanggaran disiplin yang melibatkan oknum di lingkungan pemasyarakatan sepanjang awal tahun ini. Mashudi menjelaskan bahwa separuh dari total temuan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran berat yang berkaitan dengan zat terlarang.
“Untuk triwulan pertama itu ada 27 pelanggaran. Yang berat itu hampir 50 persen. Yang berat dalam arti salah satu ya kan untuk masalah narkoba ya,” tutur Mashudi.
Penegasan sanksi juga dilakukan terhadap pegawai yang terlibat, di mana hukuman disesuaikan dengan tingkat kesalahan mulai dari teguran hingga pemberhentian secara tidak hormat. Kebijakan tegas ini diambil untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga integritas institusi.
“Nah itu, ini salah satunya yang kita lakukan jadi kita tegas. Dikasih tahu berapa kali, sekali-sekali ya kita harus kita lakukan seperti itu, padahal kita kasihan sebetulnya ya kan,” ucap Mashudi.