Pemerintah Amerika Serikat tengah menjalankan diskusi intensif dengan Iran guna mencapai kesepakatan damai. Langkah diplomasi ini diambil setelah kedua belah pihak terlibat dalam konflik bersenjata yang berlangsung sejak Februari lalu.
Donald Trump mengonfirmasi bahwa salah satu poin krusial dalam negosiasi tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur perairan ini merupakan tulang punggung bagi kelancaran logistik energi global.
Presiden Amerika Serikat tersebut menyatakan bahwa draf perdamaian sebagian besar sudah dinegosiasikan dan akan segera diumumkan. Penyelesaian ketegangan ini diharapkan mampu mengakhiri krisis yang menekan pasar energi dunia serta memicu lonjakan inflasi tinggi di Amerika Serikat.
Donald Trump mengungkapkan dirinya telah berkomunikasi melalui telepon dari Ruang Oval Gedung Putih dengan sejumlah pemimpin negara di kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Detik Finance, komunikasi tersebut melibatkan Arab Saudi, UEA, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Bahrain, dan Israel.
Seluruh negara sekutu tersebut kini berfokus untuk menyelesaikan persyaratan final dengan Republik Islam Iran. Dialog lintas negara ini diharapkan menjadi titik balik bagi stabilitas kawasan bergejolak.
"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain," kata Trump dalam unggahan di media sosial Truth Social.
Rincian dari kesepakatan damai tersebut sedang dimatangkan oleh pihak terkait sebelum dipublikasikan secara resmi kepada publik. Fokus utama tetap tertuju pada pembukaan akses Selat Hormuz yang sangat vital bagi perdagangan minyak.
Namun, respons berbeda datang dari Teheran mengenai status jalur laut strategis tersebut. Kantor berita Fars Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah pengelolaan penuh pihak Iran berdasarkan draf teks terbaru yang dipertukarkan dengan pihak Amerika Serikat.
Laporan dari media lokal Iran itu sekaligus membantah klaim sepihak dari Donald Trump mengenai pembukaan kembali selat sebagai bagian dari kesepakatan yang disebut hampir rampung. Perbedaan klaim ini memicu tanda tanya terkait hasil akhir negosiasi.
Sebelumnya, media Financial Times mengabarkan bahwa rancangan kesepakatan potensial ini akan menetapkan kerangka kerja baru untuk pembicaraan nuklir. Selain itu, poin kerja sama mencakup pelonggaran sanksi ekonomi serta pencairan aset luar negeri milik Iran yang selama ini dibekukan.
Hubungan kedua negara sebenarnya berada dalam status gencatan senjata yang rapuh sejak 8 April lalu. Kendati ada kesepakatan menahan serangan, bentrokan kecil sempat terjadi saat militer Amerika Serikat dan Iran berebut kendali atas kawasan Selat Hormuz.
Perselisihan berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat telah memicu krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade terakhir menurut pandangan negara-negara Teluk. Dampak nyata dari konflik ini adalah lonjakan harga komoditas energi di berbagai belahan dunia yang memicu rantai inflasi.