Penerapan aspek kesejahteraan hewan dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha menjadi perhatian serius akademisi. Kualitas proses penyembelihan dan pengurangan tingkat stres pada hewan kurban sangat dipengaruhi oleh penerapan prinsip tersebut.
Seperti diberitakan oleh Cahaya, panitia kurban juga diminta untuk senantiasa memperhatikan faktor keamanan serta higienitas, mulai dari pemotongan hingga pembagian daging. Guna menekan risiko kesehatan dan polusi, penggunaan wadah yang ramah lingkungan sangat dianjurkan.
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Cuk Tri Noviandi memaparkan bahwa keselamatan dan kualitas daging kurban sangat bergantung pada perlakuan yang baik terhadap hewan tersebut. Aspek ini harus menjadi prioritas utama bagi seluruh panitia kurban.
"Aspek kesejahteraan hewan perlu menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan kurban, karena itu pentingnya melaksanakan prinsip animal welfare atau 5 freedom," kata Dosen Fapet UGM Cuk Tri Noviandi dalam keterangan di Yogyakarta, Selasa.
Prinsip 5 freedom tersebut mengharuskan hewan terbebas dari rasa lapar, dahaga, sakit, serta rasa takut. Selain itu, hewan kurban juga harus dipastikan tetap dapat mengekspresikan perilaku alaminya dengan bebas.
"Perlakuan yang baik terhadap hewan kurban diyakini akan membuat proses penyembelihan lebih aman dan berkualitas," katanya.
Mitigasi Risiko Stres dan Kecelakaan Kerja
Tingkat stres pada hewan kurban berpotensi memicu kecelakaan kerja saat proses pemotongan berlangsung. Oleh karena itu, ketenangan di sekitar lokasi penyembelihan wajib dijaga dari kerumunan massa yang bising.
"Untuk itu, hanya petugas inti yang diperbolehkan berada di area penyembelihan, sementara anak-anak dan penonton diminta berada di luar radius aman," katanya.
Persiapan teknis yang matang sebelum hari penyembelihan turut menentukan kualitas daging yang dihasilkan. Hewan kurban sebaiknya diistirahatkan dan dipuasakan selama kurang lebih 12 jam, namun tetap diberikan akses air minum di tempat transit yang layak.
Panitia wajib memastikan pisau sembelih dalam keadaan bersih, tajam, serta tidak diperlihatkan kepada hewan. Alat pelindung diri (APD), fasilitas sanitasi, dan kejelasan alur kerja juga harus disiapkan demi menunjang keselamatan.
"Penyembelihan harus dilakukan dengan satu gerakan efektif pada titik yang tepat di belakang jakun untuk memastikan saluran utama terpotong sempurna sesuai syariat halal," katanya.
Menjaga Higienitas dan Distribusi Daging
Kebersihan selama fase pengolahan daging kurban juga memerlukan pengawasan yang ketat. Dosen Fakultas Peternakan UGM Rio Olympias Sujarwanta memberikan sejumlah catatan penting bagi para panitia di lapangan.
"Penggunaan sarung tangan plastik juga dianjurkan guna mencegah kontaminasi mikroba pada daging kurban," katanya.
Selama bertugas, panitia dilarang keras merokok, batuk, atau bersin di dekat tumpukan daging kurban. Rio juga melarang tindakan mencuci jeroan di area sungai karena rentan terpapar bakteri dan limbah berbahaya.
Proses pengelolaan antara daging dan jeroan wajib dipisahkan agar tidak memicu kontaminasi silang maupun munculnya bau tidak sedap. Penempatan daging secara langsung di atas tanah harus dihindari karena memicu lonjakan kuman.
"Untuk distribusi, masyarakat dianjurkan menghindari penggunaan plastik hitam karena berpotensi mengandung bahan berbahaya, dan beralih menggunakan besek bambu atau wadah yang lebih aman serta ramah lingkungan," katanya.