Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mendesak pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hantavirus di Indonesia pada Minggu (10/5/2026). Langkah antisipasi ini dinilai mendesak mengingat munculnya kasus infeksi di kapal pesiar mewah MV Hondius yang kini menjadi perhatian dunia.
Kewaspadaan nasional perlu ditingkatkan karena hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui perantara tikus. Dilansir dari Nasional, risiko penularan di Indonesia tergolong besar akibat tingginya populasi tikus di kawasan permukiman, persoalan sanitasi, serta urbanisasi yang cepat.
"Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy, dalam siaran pers, Minggu (10/5/2026).
Edy menekankan bahwa peristiwa penyebaran virus yang terjadi di lingkungan transportasi laut internasional harus dipandang sebagai peringatan serius. Kondisi lingkungan di Indonesia saat ini dinilai memiliki kemiripan risiko faktor lingkungan yang mendukung penyebaran virus tersebut.
“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia," tutur Edy.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dalam tiga tahun terakhir, Indonesia telah mencatat 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus. Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh dan tiga orang meninggal dunia karena komplikasi penyakit penyerta seperti kanker hati.
"Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoretis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Persoalannya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy.
Anggota dewan tersebut juga menjelaskan perbedaan karakteristik antara Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia dengan Andes Virus. Andes Virus diketahui lebih mematikan karena memicu infeksi paru-paru berat dan menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang dapat menular antarmanusia.
"Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” beber Edy.
Guna mencegah penyebaran lebih luas, Edy menyarankan pemerintah untuk memperluas surveilans penyakit demam akut dan meningkatkan kapasitas laboratorium PCR di rumah sakit rujukan. Pengendalian populasi tikus dan sanitasi lingkungan juga harus diperkuat sebagai pilar kesehatan publik.
"Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ujar Edy.
Selain penguatan infrastruktur kesehatan, edukasi publik mengenai penggunaan alat pelindung diri saat membersihkan area kotor menjadi faktor kunci. Upaya ini harus dilakukan secara lintas sektor mengingat ancaman zoonosis berkaitan erat dengan perubahan iklim dan lingkungan.
"Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” ujar Edy.
Wabah ini sebelumnya memicu pelacakan global oleh WHO setelah tiga orang meninggal di kapal MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Meski dua warga Singapura yang berada di kapal tersebut dinyatakan negatif, karantina dan pemantauan ketat tetap diberlakukan untuk mencegah penularan antarmanusia.