Anggota Komisi V DPR RI Saadiah Uluputty mendesak Pemerintah pusat untuk meningkatkan standar pemeliharaan infrastruktur jalan nasional di seluruh wilayah Indonesia. Tuntutan ini muncul menyusul insiden maut yang melibatkan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, pada Rabu (6/5/2026).
Tragedi yang menewaskan 16 jiwa tersebut dipicu oleh upaya pengemudi bus menghindari lubang jalan hingga akhirnya menghantam truk tangki BBM. Dilansir dari Nasional, kerusakan jalan nasional di Sumatera Selatan masih cukup signifikan, di mana hanya 33,45 persen jalan yang dikategorikan dalam kondisi baik.
Saadiah Uluputty menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan jalan agar kejadian serupa tidak terus berulang. Ia menekankan bahwa aspek keselamatan harus menjadi landasan utama dalam kebijakan pembangunan infrastruktur negara.
"Jangan sampai setiap tragedi berakhir tanpa evaluasi sistemik. Kalau memang ada kelalaian dalam pemeliharaan jalan nasional, maka harus ada akuntabilitas yang jelas," ujar Saadiah, Anggota Komisi V DPR RI.
Legislator asal PKS ini mengingatkan adanya sanksi pidana dalam Pasal 273 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bagi penyelenggara jalan yang lalai. Penegasan ini ditujukan agar perbaikan jalan tidak bersifat reaktif atau baru dilakukan setelah jatuh korban jiwa.
"Kita tidak boleh menunggu korban berikutnya baru bergerak. Keselamatan jalan harus menjadi prioritas utama negara," tegas Saadiah, Anggota Komisi V DPR RI.
Kronologi kecelakaan bermula saat bus ALS melintasi Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, pada Rabu siang. Bus tersebut dilaporkan banting stir ke arah kanan demi menghindari jalan yang tidak rata, namun nahas dari arah berlawanan muncul truk tangki milik PT Serelaya.
Benturan keras tersebut memicu kobaran api yang menghanguskan seluruh badan kedua kendaraan besar tersebut di lokasi kejadian. Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa 16 penumpang dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan tragis yang dipicu oleh kondisi geometrik jalan tersebut.