Komisi V DPR RI mendesak pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur keselamatan perkeretaapian nasional guna menekan risiko kecelakaan. Langkah ini menjadi sorotan kembali pascainsiden maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada April lalu, seperti dilansir dari Nasional.
Dorongan tersebut berfokus pada penanganan perlintasan sebidang serta penguatan jalur padat di kawasan Jabodetabek, termasuk kelanjutan proyek double-double track (DDT) Manggarai-Cikarang. Kecelakaan di Bekasi Timur itu sendiri mengakibatkan 124 korban dengan 16 orang di antaranya meninggal dunia setelah KRL berhenti di jalur akibat insiden perlintasan.
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menilai penataan kawasan lintasan sebidang sangat diperlukan agar tidak membahayakan masyarakat pengguna jalan dan kereta api.
“Kalau sudah bicara lintas sebidang supaya ini tidak berbahaya, tentu harus kita tata. Kita bikin underpass, kita bikin overpass, kita pasang pintu palang dengan penjaga, dan seterusnya. Tapi semua ini urusan yang membutuhkan biaya,” ujar Lasarus dalam rapat kerja bersama Menteri Perhubungan di DPR RI pada Kamis (21/5).
Menurut Lasarus, pembenahan keselamatan perkeretaapian masih menghadapi tantangan besar karena terdapat ribuan titik perlintasan sebidang di berbagai daerah yang belum ditangani secara optimal.
“Apakah Rp 4 triliun itu menyelesaikan masalah? Belum. Masih sangat jauh. Ada ribuan titik perlintasan sebidang yang belum dibangun,” katanya.
Komisi V DPR RI memandang kawasan dengan lalu lintas padat seperti Jabodetabek harus menjadi prioritas utama melalui pemisahan lintasan dan pengembangan jalur rel. Selain infrastruktur fisik, evaluasi juga diarahkan pada sistem operasional, investigasi kecelakaan, dan kapasitas jalur kereta.
Saat ini, sebagian proyek DDT telah berfungsi pada lintas Manggarai hingga Cakung, namun penyelesaian segmen lanjutan menuju Bekasi dan Cikarang masih membutuhkan infrastruktur tambahan.
“Kita ingin ini selesai. Tidak untuk mencari siapa yang salah, tapi supaya kejujuran itu kita ungkap untuk mengetahui sebenarnya masalahnya ada di mana,” pungkas Lasarus.