Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini memberikan peringatan kepada pemerintah guna mengantisipasi jatuhnya korban dari prajurit TNI yang bertugas di Lebanon. Hal ini berkaitan dengan rencana pengiriman kembali 742 personel pasukan perdamaian untuk misi UNIFIL di tengah eskalasi konflik Timur Tengah pada Mei 2026.
Langkah ini diambil setelah adanya catatan duka saat empat prajurit TNI dalam Satgas Kontingen Garuda (Konga) gugur akibat serangan pada 29 Maret 2026 silam. Dilansir dari Nasional, pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan kontribusi pada misi perdamaian dunia tersebut.
Amelia Anggraini menekankan bahwa mitigasi risiko yang terukur menjadi hal mutlak bagi keselamatan personel. Evaluasi berkala terhadap tingkat ancaman di lapangan sangat diperlukan mengingat situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon masih fluktuatif.
"Jangan sampai peristiwa yang beberapa bulan lalu terjadi lagi dan menimpa prajurit kita yang sedang melaksanakan misi perdamaian PBB," ujar Amelia kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).
Legislator Fraksi Nasdem ini menjelaskan bahwa operasional pasukan harus didukung persiapan logistik, sistem perlindungan, hingga skenario evakuasi darurat yang matang. Persiapan ini mencakup pembekalan aturan pelibatan dan kemampuan menghadapi serangan asimetris bagi seluruh prajurit.
"Saya memandang keberlanjutan pengiriman pasukan perdamaian ke Lebanon merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan dan mendukung mandat perdamaian dunia di bawah United Nations, meskipun dinamika keamanan di perbatasan Israel-Lebanon masih sangat fluktuatif dan memerlukan pengawasan serta evaluasi berkala terhadap tingkat ancaman di lapangan," jelasnya.
Amelia memastikan bahwa parlemen tetap memberikan dukungan penuh terhadap keterlibatan Indonesia dalam misi-misi internasional di bawah naungan PBB. Penegasan ini disampaikan sebagai bentuk dukungan moral bagi Kementerian Pertahanan dan TNI.
"Kami di Komisi I DPR RI mendukung langkah pemerintah terutama Kemhan dan TNI untuk terlibat dalam misi-misi perdamaian dunia yang dilakukan oleh PBB," imbuh Amelia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Sugiono telah memberikan arahan khusus kepada para prajurit dalam Rapat Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian pada Senin (11/5/2026). Ia mengingatkan bahwa wilayah penugasan saat ini memiliki risiko tinggi yang memerlukan keterampilan prajurit yang optimal.
"Tempat kalian ditugaskan adalah tempat yang tidak damai sama sekali dan penuh risiko. Artinya, kemampuan dan keterampilan sebagai prajurit harus disiapkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya," kata Sugiono sebagaimana dikutip dari siaran pers.