Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa tiga pesawat nirawak yang menyerang kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah pada Ahad, 17 Mei 2026, terdeteksi berasal dari wilayah Irak.
Penyelidikan teknis oleh militer Uni Emirat Arab memverifikasi rute penerbangan tersebut setelah sistem pertahanan udara mereka mencegat dua drone, sementara satu drone lain menghantam generator listrik di luar perimeter fasilitas hingga memicu kebakaran tanpa menyebabkan korban jiwa atau kebocoran radiologis.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menegaskan kesiapan militer dalam mempertahankan kedaulatan wilayah serta melaporkan penembakan jatuh total enam drone yang mengarah ke infrastruktur vital dalam kurun waktu 48 jam terakhir.
Serangan terhadap satu-satunya fasilitas nuklir di dunia Arab ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 1,5 persen ke level 110,70 dolar AS per barel akibat kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi di Selat Hormuz.
Badan Energi Atom Internasional memperingatkan risiko fatal pelepasan radioaktivitas tinggi ke lingkungan jika kompleks reaktor utama terdampak langsung oleh aksi militer tersebut.
Anwar Gargas, penasihat senior kebijakan luar negeri Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed, memberikan respons tegas melalui platform X terkait insiden yang mengancam keamanan kawasan Teluk itu.
"Serangan teroris terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah, baik dilakukan langsung oleh pelaku utama maupun melalui proksinya, merupakan eskalasi berbahaya dan babak kelam yang melanggar seluruh hukum serta norma internasional," ujar Anwar Gargash.
Menurut Anwar Gargash, tindakan tersebut memperlihatkan besarnya tantangan keamanan yang dihadapi negara-negara Teluk dari kekuatan sabotase regional.
"Eskalasi tercela ini kembali menegaskan besarnya tantangan kawasan dalam menghadapi kekuatan kejahatan, kekacauan, dan sabotase," kata Anwar Gargash.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung memberikan reaksi keras melalui platform Truth Social dengan mengarahkan peringatan kepada pemerintah Iran pasca-serangan drone tersebut.
"sebaiknya bergerak maju, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka." tegas Donald Trump.
Ketegangan ini memperburuk aksi jual obligasi global dan mendorong imbal hasil Surat Utang Pemerintah AS tenor 10 tahun ke angka 4,5 persen karena pasar mengantisipasi lonjakan inflasi.
"Kami ingin mencapai kesepakatan," kata Donald Trump kepada Axios pada Minggu.
Donald Trump menambahkan bahwa posisi Teheran saat ini belum sesuai dengan target yang ditetapkan oleh Amerika Serikat dalam draf kesepakatan damai.
"Mereka belum berada di posisi yang kami inginkan. Mereka harus sampai ke sana atau mereka akan terkena dampak yang sangat buruk, dan mereka tidak menginginkan itu." ujar Donald Trump.
Hingga saat ini, pihak Teheran belum merilis pernyataan resmi, meskipun media semi-resmi Iran Fars melaporkan adanya lima syarat damai dari Washington termasuk penyerahan uranium yang telah diperkaya.