Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah milik Uni Emirat Arab mengalami kebakaran di area tepi pembangkit akibat serangan pesawat tak berawak pada Minggu (17/5/2026). Otoritas setempat menyatakan insiden tersebut sebagai serangan teroris tanpa provokasi, sebagaimana dilansir dari Kompas.
Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) hingga kini belum menuduh pihak tertentu sebagai pelaku. Kendati demikian, insiden ini memperkuat risiko pecahnya peperangan setelah Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kesiapan untuk kembali berkonflik.
Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi ada tiga drone yang melewati perbatasan barat dari Arab Saudi, sementara dua drone lainnya berhasil dicegat. Otoritas kini menyelidiki asal peluncuran drone tersebut, mengingat Iran dan milisi Syiah di Irak kerap menyasar negara Teluk dalam konflik ini.
Pihak berwenang memastikan tidak ada laporan korban cedera maupun kebocoran radiasi di lokasi kejadian. Kompleks senilai 20 miliar dolar AS ini dibangun bersama Korea Selatan dan beroperasi sejak 2020 untuk memenuhi seperempat pasokan energi UEA.
Penasihat diplomatik presiden UEA, Anwar Gargash, memberikan penilaian mengenai dampak geopolitik dari peristiwa tersebut melalui media sosialnya.
"Serangan itu, baik dilakukan oleh aktor utama atau melalui salah satu proksinya, merupakan eskalasi yang berbahaya," kata Anwar Gargash, Penasihat Diplomatik Presiden UEA.
Sementara itu, situasi regional semakin memanas menyusul blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump langsung memberikan pernyataan keras melalui media sosial setelah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka," tulis Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan bernada ancaman tersebut dikeluarkan di tengah rekam jejak Trump yang kerap menetapkan tenggat waktu untuk Teheran namun kemudian membatalkannya. Merespons ketegangan yang meningkat, pihak militer Iran menyatakan kesiapannya menghadapi segala situasi.
"Jari-jari angkatan bersenjata kita berada di pelatuk, sementara diplomasi juga terus berlanjut," kata Mohsen Rezaei, Penasihat Militer Pemimpin Tertinggi Iran.
Saat ini kondisi gencatan senjata di kawasan tersebut dinilai sangat rapuh setelah upaya diplomasi damai jangka panjang mengalami kegagalan. Di sisi lain, Arab Saudi mengutuk keras insiden tersebut dan melaporkan telah mencegat tiga drone yang memasuki wilayahnya dari ruang udara Irak.