Dugaan kasus child grooming yang melibatkan mantan Kepala SMK Letris 2 Pamulang, Tangerang Selatan, mulai terungkap ke publik. Kasus ini mencuat setelah beredarnya saluran WhatsApp yang memuat foto dan video kedekatan antara eks kepala sekolah dengan seorang siswi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Letris 2 Pamulang, Firdaus Shaugie, menyatakan bahwa pihak sekolah awalnya tidak mengetahui hubungan dekat antara eks kepala sekolah berinisial AMA dan siswi berinisial S. Seperti dilansir dari Megapolitan, komunikasi keduanya bermula dari permintaan orangtua siswi pada Maret 2026.
"Ibundanya (S) komunikasi dengan (eks) kepala sekolah (AMA) yang intinya nitip anak ini supaya dijaga karena posisinya tinggal di kos sama kakaknya," ujar Firdaus saat ditemui Kompas.com di SMK Letris 2 Pamulang, Tangsel, Senin (18/5/2026).
Firdaus menyebutkan bahwa siswi tersebut kerap mencurahkan persoalan pribadinya kepada AMA. Meski demikian, pihak sekolah mengaku telah mengingatkan agar interaksi di antara keduanya tetap berjalan profesional.
"Kita sudah sampaikan ke wali kelasnya, kepala sekolah juga sudah kita sampaikan bahwa harus menjaga profesionalitas," kata Firdaus.
Firdaus mengklaim tidak pernah melihat adanya kedekatan yang mencolok antara AMA dan S selama berada di lingkungan sekolah. Namun, pihak sekolah tidak mengetahui bagaimana interaksi keduanya di luar jam sekolah.
"Kita kan di sekolah dari jam 07.00 WIB sampai jam 16.00 WIB, enggak ada sama sekali kedekatan. Kalau di luar sekolah kita enggak tahu, kita enggak tahu nih di luar sekolah kayak gimana," jelas dia.
Selama berinteraksi dengan AMA, siswi tersebut kerap membagikan cerita pribadinya melalui saluran WhatsApp bernama "Em Anu" yang memiliki pengikut terbatas.
"Jadi anak ini kalau kata bahasa anak-anak teman-teman yang lain itu dia kayak punya kebanggaan dekat dengan Bapak Kepala Sekolah. Kalau dari segi pandang kita kan enggak normal ya, itu enggak bisa dinormalisasikan," kata Firdaus.
Kasus ini mulai mencuat pada Rabu (13/5/2026) setelah beredarnya saluran WhatsApp bernama "spill" di kalangan siswa yang terbuka untuk umum hingga menjadi viral.
"Jadi peristiwa ini bermula dari tersebarnya akun saluran WhatsApp ‘spill’. Kontennya itu sebenarnya berasal dari saluran WhatsApp anak ini sendiri," ujar Firdaus.
Konten dari akun tersebut kemudian menyebar luas ke berbagai media sosial seperti TikTok, Instagram, Threads, dan X. Hal ini memicu perbincangan hangat di kalangan siswa dan alumni.
Pihak yayasan langsung memanggil AMA, S beserta keluarganya, serta pihak internal sekolah pada Kamis (14/5/2026) untuk meminta klarifikasi. Dalam pertemuan tersebut, AMA dan S membantah memiliki hubungan khusus.
Walaupun ada bantahan, pihak yayasan tetap menilai kedekatan tersebut telah melanggar kode etik guru. Yayasan kemudian mengambil tindakan tegas dengan menonaktifkan AMA sejak Jumat (15/5/2026) selama proses investigasi.
Sehari setelah dinonaktifkan, tepatnya pada Sabtu (16/5/2026), AMA mengajukan surat pengunduran diri. Pihak yayasan menerima pengunduran diri tersebut bersamaan dengan keputusan penonaktifan permanen atau pemecatan.
Kasus ini sekarang telah menarik perhatian luas dari masyarakat. Selain memicu aksi unjuk rasa oleh para siswa di lingkungan sekolah, perkara tersebut kini juga sedang ditangani oleh pihak kepolisian.