Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan mengungkap sosok empat pilot perempuan muda yang mengawal penerbangan Presiden Prabowo Subianto, baik dalam penerbangan domestik maupun internasional pada Selasa (26/5/2026).
Para penerbang andal tersebut berasal dari maskapai nasional Garuda Indonesia hingga jajaran TNI Angkatan Udara. Penunjukan para pilot muda ini sejalan dengan perhatian besar Presiden Prabowo terhadap generasi muda berprestasi di Indonesia.
"Semakin lama saya ikut Presiden Prabowo, semakin banyak saya mengenal para outliers. Mungkin karena Presiden selalu ingatkan, 'kita harus terus temukan, beri kesempatan, dan apresiasi orang-orang terbaik, cinta merah putih, berapapun usianya'," tulis Dirgayuza dalam keterangan di akun Instagram pribadinya.
Dirgayuza menjelaskan bahwa fokus Presiden terhadap talenta muda telah mendasari gagasan pendirian SMA Taruna Nusantara pada 1988, pendirian SMA Unggul Garuda, hingga pelaksanaan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD).
"Tania jadi pilot perempuan pertama Garuda Indonesia yang menerbangkan Presiden yang sedang menjabat," ujar Dirgayuza.
Captain Tania Citra yang kini berusia 31 tahun merupakan penerbang Boeing 777 Garuda Indonesia yang membawa Presiden dalam kunjungan ke Prancis pada Selasa (26/5) pukul 00.08 WIB. Tania sebelumnya memegang rekor sebagai pilot perempuan sekaligus instruktur Boeing 777 termuda di dunia saat berusia 29 tahun.
"Ia juga seorang Paskibraka Nasional di tahun 2011," kata Dirgayuza.
Sosok berikutnya adalah Captain Ajeng Mahessa dari Skadron Udara 17 TNI AU yang mengoperasikan pesawat Boeing 737 kepresidenan untuk rute domestik dan regional. Ajeng yang berusia 30 tahun tercatat sebagai pilot Boeing 737 kepresidenan termuda di dunia.
Selain Ajeng, terdapat Captain Yustikasari Diana Putri atau Tika dari Skadron Udara 2 TNI AU yang berusia 27 tahun. Lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan 24 ini bertugas menerbangkan pesawat jenis CN untuk misi kemanusiaan dan pendaratan di wilayah dengan landasan pacu pendek.
Pilot keempat adalah Captain Gini Setya Rahayu dari Skadron Udara 31 TNI AU yang mengemban tugas sebagai penerbang Hercules C-130. Perempuan berusia 24 tahun lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan 27 ini menjadi bagian penting dari dukungan logistik operasi rehabilitasi di Sumatera.
Dirgayuza menilai pencapaian luar biasa para penerbang perempuan ini masih jarang mendapat perhatian luas dari media dan ruang publik.
"Saya menulis dan membagikan catatan ini karena saya merasa kisah para outliers seperti Capt. Tania, Capt. Ajeng, Capt. Tika dan Capt. Gini harus lebih banyak diceritakan di ruang kelas dan ruang media," kata Dirgayuza.
Melalui catatan tersebut, Dirgayuza berharap dedikasi para pilot ini dapat memotivasi generasi muda perempuan di Indonesia untuk berani mengejar karier di dunia penerbangan.
"Di balik sukses mereka, ada ribuan jam belajar, bekerja dan mengumpulkan tekad agar bisa, secara literal, melawan hukum gravitasi dan berhasil terbang tinggi di langit Nusantara dan dunia. Berhasil di dunia yang mayoritas pikir reserved untuk laki-laki saja," ujar Dirgayuza.
Pihaknya menegaskan bahwa kehadiran figur-figur unggul ini sangat dibutuhkan untuk mendorong kemajuan bangsa di berbagai sektor strategis lainnya.
"Untuk maju, Indonesia butuh outliers seperti mereka tidak hanya berhasil dalam tugas utama mereka, tapi juga berhasil menumbuhkan harapan, membangun cita cita dan mencetak ribuan outliers lainnya di berbagai bidang," kata Dirgayuza.