Sejumlah pemimpin negara di benua Eropa mulai mengubah sikap politik mereka dari kebijakan penenangan menjadi evaluasi kritis terhadap kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Mei 2026. Pergeseran ini terjadi setelah periode upaya stabilisasi hubungan sepanjang tahun 2025 yang dinilai belum mampu meredam sikap permusuhan Washington dalam isu perdagangan dan pertahanan.
Kajian Strategic Europe yang disunting oleh Rym Momtaz menyoroti kelelahan diplomatik di kalangan pejabat tinggi Eropa terkait perilaku Presiden AS. Laporan tersebut mempertanyakan apakah nilai strategis hubungan dengan Washington masih sebanding dengan biaya politik dan diplomatik yang harus ditanggung akibat ketidakpastian sikap Trump.
Ketergantungan terhadap perlindungan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama tujuh dekade kini berada di ambang perubahan besar. Penurunan kepercayaan pada komitmen pertahanan kolektif NATO mendorong negara-negara anggota Uni Eropa untuk segera mengimplementasikan otonomi strategis guna menentukan nasib mereka sendiri tanpa bayang-bayang protektorat eksternal.
Integrasi pertahanan kini menjadi prioritas utama untuk menghindari kebangkitan nasionalisme destruktif seperti yang pernah terjadi pasca-Perang Dunia I. Upaya ini mencakup peningkatan anggaran militer nasional dan penguatan mekanisme Kerja Sama Terstruktur Permanen (PESCO) untuk standarisasi peralatan tempur lintas batas negara.
Jerman dan Prancis diposisikan sebagai penggerak utama dalam merancang arsitektur keamanan baru ini. Kedua negara dituntut untuk memimpin koordinasi kebijakan militer dan teknologi tanpa menciptakan kesan dominasi sepihak di dalam blok Uni Eropa yang saat ini juga menghadapi tekanan dari gerakan populisme sayap kanan.
Donald Trump sendiri tercatat aktif mendukung tokoh-tokoh sayap kanan seperti Viktor Orban di Hungaria dan Robert Fico di Slovakia, meskipun kebijakan ekonominya sering merugikan kepentingan nasional negara-negara tersebut. Ketegangan semakin memuncak menyusul ancaman pengenaan tarif baru terhadap produk Prancis dan klaim sepihak terkait wilayah Greenland milik Denmark.
Sikap keras juga ditunjukkan oleh Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen yang menentang ambisi AS terhadap Greenland. Respon tegas tersebut berdampak pada penurunan tingkat kepercayaan publik di Prancis, Jerman, dan Inggris, di mana hanya sekitar 15 persen responden yang masih menganggap Amerika Serikat sebagai mitra yang dapat diandalkan.
"protektorat" tulis estrelladigital.com.mx.
Istilah tersebut merujuk pada berakhirnya era ketergantungan keamanan Eropa pada Amerika Serikat. Hal ini memicu perlunya kemitraan antar setara di mana Eropa berperan sebagai aktor global yang mandiri dalam menghadapi tantangan keamanan siber maupun perlindungan perbatasan di masa depan.
"decadence" lapor visiondesarrollista.org.
Narasi penurunan standar kepemimpinan Eropa sering digunakan oleh administrasi Trump untuk mengkritik kebijakan migrasi dan kebebasan berekspresi di benua tersebut. Namun, kekalahan telak Viktor Orban dalam pemilu Hungaria baru-baru ini menandakan adanya perlawanan pemilih terhadap figur-figur yang beraliansi kuat dengan kebijakan luar negeri Trump.
"American First" sebut visiondesarrollista.org.
Doktrin tersebut dianggap tidak lagi menguntungkan bagi partai-partai sayap kanan Eropa yang mulai memprioritaskan kedaulatan nasional mereka sendiri di atas kesamaan ideologi transatlantik. Perubahan sentimen ini menandai fase baru dalam dinamika politik global di mana aliansi tradisional sedang diuji oleh kepentingan ekonomi yang saling berbenturan.