Gunung Dukono yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, mengalami erupsi dahsyat pada Jumat, 8 Mei 2026. Letusan tersebut dilaporkan merenggut nyawa tiga orang pendaki dan memicu evakuasi darurat di area puncak.
Dilansir dari Suara, aktivitas vulkanis ekstrem ini tercatat terjadi pada pukul 07.41 WIT. Gunung api tersebut menyemburkan kolom abu vulkanik raksasa berwarna kelabu hingga hitam pekat setinggi 10.000 meter atau 10 kilometer ke angkasa.
Peristiwa mematikan ini menelan korban jiwa yang terdiri dari dua Warga Negara Asing (WNA) asal Singapura dan satu Warga Negara Indonesia (WNI) asal Jayapura. Letusan vertikal yang disertai suara dentuman kuat terjadi saat para pendaki berada di dekat kawah aktif.
Meskipun jalur pendakian sebenarnya telah ditutup demi keselamatan, sejumlah pendaki dilaporkan tetap berada di zona berbahaya saat letusan mendadak terjadi. Situasi tersebut memicu kepanikan luar biasa di area pendakian.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Ternate, BPBD Halmahera Utara, TNI, dan Polri segera bergerak menuju lokasi. Petugas berhasil mendeteksi sinyal darurat (SOS) dari perangkat GPS Garmin milik salah satu pendaki.
Melalui operasi penyelamatan tersebut, sebanyak 17 pendaki berhasil dievakuasi dari amukan abu panas. Para korban luka langsung dilarikan ke fasilitas medis terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif setelah berhasil dibawa turun dari lereng gunung.
Karakteristik dan Lokasi Geografis Dukono
Secara geografis, Gunung Dukono berada di bagian utara Pulau Halmahera. Untuk mencapai kawasan kawah aktifnya, pendaki biasanya memulai perjalanan dari kota Tobelo melalui Desa Mamuya atau Desa Ruko dengan waktu tempuh sekitar 5 hingga 7 jam.
Gunung dengan ketinggian 1.185 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Berdasarkan catatan vulkanologi, Dukono telah mengalami erupsi terus-menerus sejak pertama kali meletus hebat pada tahun 1933.
Keunikan gunung ini terletak pada lanskap kawahnya yang luas dengan hamparan pasir vulkanik gelap yang menyerupai permukaan bulan. Namun, di balik keindahannya, gunung ini memiliki zona bahaya yang sangat dinamis dan dipantau ketat oleh otoritas terkait.
Imbauan Keamanan dari Pihak Berwenang
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara rutin menetapkan status waspada (Level II) atau siaga pada gunung ini. Masyarakat dan wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas pendakian di dalam radius aman yang telah ditentukan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama kepolisian setempat terus memberikan imbauan keras kepada komunitas pecinta alam untuk mematuhi rekomendasi keselamatan. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya korban jiwa tambahan akibat aktivitas vulkanis yang tidak terduga.
"Gunung Dukono di mana?" merupakan pertanyaan yang banyak dicari setelah kabar duka ini menyelimuti dunia pendakian. Pihak berwenang menegaskan pentingnya disiplin mengikuti aturan penutupan jalur demi menghindari risiko fatal dari kawah aktif tersebut.