Fabiola Elizabeth Agnes Diduga Terlibat Sindikat Love Scamming Kripto Internasional

Fabiola Elizabeth Agnes Diduga Terlibat Sindikat Love Scamming Kripto Internasional

Mantan istri Reza Smash, Fabiola Elizabeth Agnes, diduga terlibat dalam jaringan sindikat penipuan internasional. Seperti diberitakan oleh Suara, pelaku ditengarai menggunakan metode love scamming untuk menjaring para korban sejak Juli 2025.

Jaringan penipuan investasi kripto ini bergerak dengan strategi yang terstruktur. Tim pemasaran dari sindikat tersebut akan maju terlebih dahulu untuk menyortir target yang akan dijadikan korban.

Mereka beroperasi menggunakan akun media sosial dengan foto-foto yang menarik. Sasaran utama dari sindikat ini merupakan warga mancanegara dan bukan orang Indonesia.

Fabiola baru akan turun tangan mendekati target setelah korban mulai menunjukkan ketertarikan. Langkah ini diambil khususnya jika calon korban belum mau menginvestasikan uang mereka.

"Jadi marketing itu untuk menjerat korban. Mereka akan menyortir calon korban yang butuh diyakinkan, maka F yang akan maju melayani video call. Itu supaya korban berinvestasi," kata Himawan.

Pemilihan Fabiola dalam sindikat ini didasari atas latar belakangnya yang merupakan seorang model. Selain itu, ia juga dinilai fasih dalam melakukan komunikasi bisnis.

"Jadi calon korban dibuat dekat dulu secara personal, baru mereka meminta transfer dana secara bertahap," ujar Himawan.

Setelah hubungan personal terbangun, korban akan diarahkan untuk menanamkan modal pada platform perdagangan kripto. Namun, platform tersebut merupakan situs web palsu yang sistemnya telah dimanipulasi oleh tim IT sindikat.

Aktivitas sindikat yang berlangsung sejak Juli 2025 hingga Mei 2026 ini mengumpulkan dana yang fantastis mencapai Rp41 miliar. Kelompok ini menargetkan sekitar 5.000 orang, dengan korban yang terdata mencapai 133 orang.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto memberikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam skema investasi serupa, terutama yang diawali dengan pendekatan personal di media sosial.

"Masyarakat diharapkan tak mudah mempercayai ajakan berinvestasi, terutama dari orang yang baru dikenal melalui media sosial," kata Artanto.

Artikel terkait

Rekomendasi