Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menerapkan strategi kreatif dalam menyalurkan bantuan pendidikan bagi para mahasiswanya. Institusi ini memanfaatkan instrumen investasi untuk memastikan keberlanjutan beasiswa tanpa menguras dana simpanan pokok.
Program ini menyasar para mahasiswa yang memiliki prestasi akademik baik namun menghadapi kendala secara finansial. Dilansir dari Suara, saat ini terdapat enam mahasiswa yang secara rutin menerima bantuan uang saku melalui skema tersebut.
Setiap penerima mendapatkan dana sebesar Rp600 ribu per bulan. Sumber pendanaan awal beasiswa ini berasal dari kontribusi para alumni Fakultas Pertanian UGM serta pihak filantropi yang dikelola lewat Yayasan Harjono Danoesastro.
Sejak tahun 2023, pihak fakultas mulai menginvestasikan dana sumbangan tersebut ke instrumen Reksa Dana BRI Balanced Regular Income Fund (BRIF). Nilai investasi yang ditempatkan mencapai Rp1,3 miliar dari total dana abadi yang terkumpul hampir Rp1,4 miliar.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dyah Weny Respatie, menjelaskan bahwa penempatan dana tersebut menghasilkan imbal hasil sekitar Rp5 juta setiap bulannya. Pendapatan rutin inilah yang kemudian dialokasikan untuk membiayai beasiswa mahasiswa.
"Terkait pendidikan, kami ada Yayasan Harjono Danoesastro. Itu adalah yayasan yang bekerja sama antara Faktultas Pertaian dan Kagama Pertanian," kata Dyah Weny Respatie.
Pihak fakultas menyediakan fasilitas QR code untuk memudahkan alumni atau donatur lainnya mengirimkan bantuan langsung ke rekening yayasan. Skema ini dirancang agar bantuan dapat tersalurkan tanpa mengurangi saldo tabungan utama hasil sumbangan.
"Sekarang sudah terkumpul hampir Rp1,4 M. Ditempatkan di BRIF, semacam saham BRI, jadi kami penempatan dana abadi di sana Rp1,3 M. Kami setiap bulan bisa membeasiswai enam mahasiswa, 600 ribu per bulan. Jadi, keuntungannya untuk membeasiswai tanpa mengurangi dana," ujar Dyah.
Dyah Weny Respatie mengungkapkan bahwa pemilihan BRI sebagai mitra investasi dilakukan setelah melalui proses riset ke berbagai perbankan. Ia menilai produk BRIF memberikan suku bunga atau keuntungan yang paling kompetitif saat ini.
"Kami sudah dua tahun pakai BRIF, jadi itu memang salah satu bentuk kerja samanya dengan BRI. Dan kenapa pakai BRI, karena kami mencari suku bunga paling tinggi," tutur Dyah.
Ia menambahkan bahwa stabilitas bunga yang diberikan sangat penting karena fakultas memerlukan dana rutin untuk disalurkan setiap bulan kepada mahasiswa. Dyah berharap ke depannya imbal hasil tersebut bisa lebih ditingkatkan.
"Harapan ke depan, kalau dari BRI kalau boleh bunganya dinaikin. Karena ini bukan untuk kami, karena semakin banyak bunga yang kami kelola. Itu semakin banyak manfaatnya, semakin banyak mahasiswa," kata Dyah.
Kriteria utama penerima bantuan ini adalah mahasiswa yang menunjukkan performa akademik unggul namun berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang beruntung. Program ini diharapkan dapat memperluas akses pendidikan bagi generasi muda.
Area Head BRI Yogyakarta, Lutfi Anggriawan, memaparkan bahwa BRIF merupakan produk dari BRI Manajemen Investasi. Instrumen ini dirancang untuk investor yang menginginkan keseimbangan antara pendapatan rutin dan pertumbuhan modal.
"BRIF itu produk dari anak perusahaannya BRI, yaitu BRI Manajemen Investasi. Jadi, kolaborasi tidak hanya BRI saja, tapi di situ ada anak perusahaan, yang nanti penempatan dananya ada di obligasi dan saham," ujar Lutfi.
Lutfi menjelaskan bahwa kinerja portofolio BRIF sebagian besar ditempatkan pada instrumen obligasi, sehingga imbal hasilnya sangat dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga Bank Indonesia. Pengelolaan dana ini dilakukan secara profesional oleh manajer investasi.
"Sependapat dengan Bu Weny, tetapi kembali lagi untuk reksa dana tergantung kepada alokasi portofolio aset reksa dana tersebut," kata Lutfi.