Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pembaruan besar pada Masjid Al-Mustadam guna mengatasi keterbatasan daya tampung jamaah yang melonjak, seperti dilansir dari Suara.
Tempat ibadah yang semula hanya berupa musala kecil sejak 1999 tersebut kini telah bertransformasi menjadi bangunan megah tiga lantai dengan arsitektur modern.
Langkah pemugaran ini diambil lantaran area lama tidak lagi mampu memuat warga kampus, terutama saat pelaksanaan Salat Jumat yang kerap meluber hingga ke jalan raya.
Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM, Sugeng Sapto Surjono, menjelaskan bahwa perluasan tempat ibadah ini didasari oleh tingginya kebutuhan ruang spiritual yang representatif di lingkungan kampus.
"Karena dulu itu waktu Jumatan terutama ya, pasti keluar-keluar sampai di luar. Pasti sampai di jalan dan sebagainya," kata Sugeng.
"Sehingga kami merasa untuk memperluas dan meningkatkan masjid. Oleh karena itu yang kami lakukan renovasi," imbuhnya.
Proses rekonstruksi yang dimulai pada 2019 ini mengandalkan sumber pendanaan swadaya secara penuh tanpa mengikat dari berbagai pihak eksternal.
Guru besar di bidang ilmu Sedimentologi dan Stratigrafi tersebut menegaskan bahwa anggaran pembangunan dihimpun dari kontribusi jamaah, alumni, hingga program tanggung jawab sosial perusahaan.
"Masjid yang kami bangun di fakultas ini memang dananya 100 persen, istilahnya dari dana bantuan tidak mengikat. Dari alumni, jamaah, bahkan dari beberapaCSR corporate dan sebagainya," ujar Sugeng.
"Salah satunya itu kami waktu juga mengajukan beberapa proposal pendaan, salah satunya ke BRI. Intinya seperti itu. Kebetulan waktu itu menghubungi salah satu direktur di Jakarta, sehingga prosesnya berlanjut dan kemudian disetujui," lanjut pria yang meraih gelar doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia itu.
"Pada waktu itu, modelnya itu kan kalau tidak salah, pemberian terus kami wujudkan menjadi barang. Salah satunya untuk keramik. Kalau wujudnya, semula itu dua lantai kapasitas hanya sekitar 700-an, sekarang diperlebar dan dinaikkan menjadi tiga lantai. Luasnya juga bertambah, sehingga sekarang daya tampungnya hampir 3.000," tambah Sugeng.
Berdasarkan data resmi UGM pada 18 Maret 2021, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengucurkan bantuan dana stimulan sekitar Rp1,3 miliar untuk mendukung proyek tersebut.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi besar tersebut, pihak pengelola menyematkan logo korporasi penyumbang di bagian fasad depan bangunan.
"Jadi, memang BRI itu menjadi salah satu donatur yang cukup besar, sehingga kami juga memasang sebagai penghargaan, di depan, kami tulis logo-logo donatur yang memberikan donasinya," terang Sugeng.
Selain berfungsi sebagai pusat ibadah, Masjid Al-Mustadam dirancang untuk mendukung kegiatan akademik dan interaksi sosial mahasiswa melalui penyediaan sarana pendukung di lantai dasar.
Area selasar yang mengusung konsep terbuka kini difungsikan sebagai area kerja bersama (coworking space) yang dilengkapi jaringan internet nirkabel, sumber daya listrik, dan air minum gratis.
"Kemanfaatannya tidak hanya untuk ibadah sebenarnya. Di sana itu, ada lantai satu yang cukup terbuka begitu bisa dipakai untuk coworking space," ujar Sugeng.
"Biasanya yang mengerjakan anak-anak tugas kelompok yang menggambar dari arsitek saya lihat. Teman-teman dari geodesi juga banyak memanfaatkan itu, mengerjakan di situ," imbuhnya.
"Jadi enggak cuma ibadah, ya. Yang penting kalau pas waktu ibadah diminta untuk menyesuaikan," tuturnya menambahkan.
Fasilitas ini mendapat respons positif dari mahasiswa Teknik Kimia, Muhammad Hanief, yang kerap memanfaatkan ketenangan selasar untuk belajar di sela jadwal kuliah.
"Tadi sekalian turun, makan, terus nanti ada kelas tambahan. Di sini itu vibesnya tenang. Hawanya adem dan lingkungannya bersih. Wifinya juga masuk sini, ada listrik. Apalagi bisa sambil tidur-tiduran," ujar Hanief.
Mahasiswa lain bernama Khaizuran Delwyn juga memilih tempat ini sebagai ruang alternatif yang lebih sejuk dibandingkan fasilitas serupa di area dekanat.
"Sebenarnya kalau mau nugas ada perpusatakan. Tapi kalau jam segini, ataupun orang-orang yang tidak ada kelas, tapi ada kelas lagi sampai dhuhur, pasti ramai di sana," ungkap Delwyn.
"Sebagai alternatif di sini. Di sini menurut saya juga adem. Di Fakultas Teknik kan juga ada coworking space, tapi kurang adem sih. Kalau di sini ada chargeran juga lebih banyak. Bisa nugas dan tidur juga. Kalau mau dhuhuran lebih gampang," imbuhnya.
Dukungan Operasional dan Kegiatan Sosial
Pihak takmir menyatakan tidak berkeberatan dengan tingginya aktivitas non-ibadah mahasiswa di dalam area masjid selama kebersihan dan ketertiban tetap terjaga.
Pengurus Masjid Al-Mustadam, Dany Sitepu, memastikan bahwa kenyamanan mahasiswa menjadi prioritas dengan menjaga kebersihan lantai serta menyediakan logistik harian.
"Kami tidak terganggu. Masjid ini pertama kebermanfaatannya semakin banyak, ya. Tak hanya menampung untuk salat. Kedua, sudah disediakan wifi untuk membantu mahasiswa mengerjakan tugas. Untuk istirahat juga nyaman," ujar Dany Sitepu.
"Bahkan disediakan dispenser juga. Jadi, mereka nanti untuk minum sudah aman," lanjutnya.
Pihak pengelola juga menyelenggarakan agenda sosial rutin bertajuk Jumat Berkah dengan membagikan ratusan porsi makanan gratis bagi para jamaah.
"Masjidnya sekarang kan sering banget kegiatan Jumat Berkah. Sekalinya Jumat Berkah menyediakan 500 piring. Nanti ada kursi dan meja juga. Nanti 500 sudah kerja sama dengan pihak catering, mereka membawa ke sini sudah jadi," kata Deny.
"Itu 100 piring sebelum Jumatan khusus putri, nanti 400 itu setelah Jumatan untuk putra dan ini umum," lanjut pria yang sudah empat tahun membersihkan masjid tersebut.