Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan International Summer Course ke-10 bertema pengeditan gen di Yogyakarta pada 4-16 Mei 2026 untuk memperkuat kolaborasi riset global dalam pertanian berkelanjutan. Sebanyak 112 peserta dari 19 negara mengikuti kegiatan yang digelar secara hibrida tersebut.
Program internasional ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan guna menjawab tantangan ketahanan pangan melalui kemajuan bioteknologi. Dekan Fakultas Peternakan UGM, Profesor Budi Guntoro, menjelaskan bahwa teknologi pengeditan gen memiliki potensi besar menciptakan sistem produksi yang lebih efisien.
"Seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, kesehatan dan kesejahteraan hewan ternak, hingga sistem produksi yang berkelanjutan," kata Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM.
Budi menekankan bahwa institusi pendidikan tinggi harus memimpin riset inovatif guna meningkatkan kualitas kesehatan hewan dan manusia di masa depan. Pengembangan riset peternakan tropis ini diwujudkan melalui kerja sama dengan institusi luar negeri.
"Summer Course ini menjadi bagian dari komitmen UGM dalam mendorong riset unggul, yang juga berdampak secara global," ucap Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM.
Kerja sama ini melibatkan Centre for Tropical Livestock Genetics and Health serta The University of Edinburgh sebagai mitra strategis. Sinergi lintas negara tersebut diharapkan mampu mengakselerasi hilirisasi riset peternakan.
"Langkah kerjasama ini menjadi contoh kuat dalam membangun sinergi global," ujar Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM.
Budi meyakini bahwa keterlibatan peneliti dari berbagai belahan dunia akan memberikan dampak nyata bagi sektor peternakan internasional. Inovasi yang lahir dari forum ini diarahkan untuk menjadi solusi konkret bagi masyarakat.
"Khususnya dalam pengembangan riset dan pendidikan di bidang peternakan tropis," tutur Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM.
Pihak fakultas juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjembatani kebutuhan industri dan akademisi. Hal ini tercermin dari keberagaman latar belakang peserta yang memperkaya perspektif diskusi.
"Melalui kegiatan ini, dapat terbangun kolaborasi akademik dan riset yang lebih luas, serta lahir inovasi-inovasi yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian berkelanjutan," kata Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM.
Reputasi global fakultas juga dibuktikan dengan kelulusan mahasiswa internasional pada awal Mei 2026. Dua doktor asal Vietnam dan satu magister asal Tanzania berhasil menyelesaikan studi dengan capaian akademik yang sangat memuaskan.
"Saya berharap kolaborasi lintas negara melalui proses pendidikan ini mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor peternakan di berbagai belahan dunia," harap Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, memberikan apresiasi atas konsistensi fakultas dalam mengadakan program ini. UGM berupaya memperkuat posisi sebagai mitra global keamanan pangan.
"Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan riset di bidang pertanian dan ketahanan pangan, yang tidak hanya berhenti pada forum akademik semata, tetapi juga diarahkan sebagai katalisator lahirnya kolaborasi strategis di masa depan," kata Danang Sri Hadmoko, Wakil Rektor UGM.
Danang menilai momentum satu dekade penyelenggaraan summer course ini merupakan tonggak sejarah bagi kontribusi universitas pada isu-isu dunia. Selain riset, pengalaman sosial budaya mahasiswa asing juga menjadi nilai tambah dalam pendidikan di UGM.
"Tidak mudah menjalani studi. Namun, berkat ketekunan dan tekad yang kuat akhirnya selesai sudah perjuangan kami," ujar Nguyen Hoang Qui, Lulusan Doktor Fapet UGM asal Vietnam.
Penelitian para lulusan internasional tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari daya saing peternak babi hingga keragaman genetik kambing perah. Lingkungan belajar yang kondusif di Yogyakarta dinilai sangat membantu penyelesaian riset mereka.
"Pengalaman hidup dalam keberagaman masyarakat Indonesia memperluas wawasan saya dalam berinteraksi dan bekerja dalam lingkungan multikultural," ungkap Mathew Mgogo, Lulusan Magister Fapet UGM asal Tanzania.
Mathew merencanakan untuk kembali ke negara asalnya guna mengabdi di Kementerian Peternakan dan Perikanan Tanzania. Ia mengapresiasi fasilitas laboratorium dan tenaga pendidik yang dinilai profesional selama masa studinya.
"Dukungan akademik di Fapet UGM sudah sangat baik, dengan dosen yang profesional dan suportif, tenaga kependidikan yang responsif, serta lingkungan pertemanan yang sangat membantu saya beradaptasi," imbuh Mathew Mgogo, Lulusan Magister Fapet UGM asal Tanzania.